Riccardo Calafiori Panggung Utama di Pesta Juara Arsenal, Bawa Gaya 'Capo Ultra' Italia
Baca dalam 60 detik
- Bek Arsenal Riccardo Calafiori memimpin nyanyian suporter dalam parade bus terbuka perayaan gelar Premier League pertama klub dalam 22 tahun.
- Perannya sebagai 'capo ultra' di panggung perayaan menunjukkan pengaruh budaya sepak bola Italia yang ia bawa dari tribun Roma.
- Momen ini menegaskan bagaimana pemain internasional bisa menjadi jembatan antara klub dan basis penggemar global, termasuk di Indonesia.

Riccardo Calafiori, bek timnas Italia milik Arsenal, menjadi pusat perhatian dalam parade perayaan gelar Premier League yang digelar di London Utara, akhir pekan lalu. Ia memimpin koor suporter dari atas bus terbuka, menandai kemenangan perdana Arsenal di liga domestik dalam 22 tahun terakhir.
Perayaan itu menjadi pelipur lara setelah Arsenal gagal meraih double winner usai takluk dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions pada malam sebelumnya. Meski demikian, secara statistik The Gunners tidak terkalahkan sepanjang turnamen, hanya kalah melalui adu penalti di Budapest setelah skor 1-1.
Calafiori, yang hanya duduk di bangku cadangan saat final, tampil sebagai figur kunci sepanjang musim dengan 36 penampilan, satu gol, dan tiga assist. Namun, aksinya di atas bus perayaan justru menjadi sorotan: ia mengambil mikrofon dan memimpin nyanyian ribuan suporter yang memadati rute parade.
Gaya memimpin koor itu, yang dalam tradisi Italia disebut 'capo ultra', bukanlah hal asing bagi Calafiori. Ia mempelajarinya saat masih menjadi suporter di Curva Sud, tribun paling fanatik di Stadio Olimpico Roma. Momen ini menunjukkan bagaimana budaya sepak bola Italia—yang kental dengan koreografi dan nyanyian terorganisir—merasuk ke dalam tubuh Arsenal.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, aksi Calafiori bisa menjadi inspirasi tentang bagaimana pemain asing bisa beradaptasi dan bahkan memengaruhi atmosfer klub. Di Liga Indonesia, peran 'capo' atau pemimpin suporter sudah lazim di tribun, tetapi jarang dilakukan oleh pemain aktif. Kehadiran Calafiori di atas bus perayaan membuktikan bahwa pemain bisa menjadi jembatan antara tim dan basis penggemar yang multikultural.
Calafiori juga mengunggah foto selfie bersama kerumunan dari atas bus ke Instagram Stories, memperkuat koneksi personal dengan suporter. Langkah ini sejalan dengan tren pemain modern yang aktif membangun personal branding melalui media sosial, sekaligus mendekatkan diri dengan fans.
Ke depan, peran Calafiori di Arsenal diprediksi akan semakin sentral, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Pertanyaannya, akankah gaya 'capo ultra' ini menjadi tren baru di klub-klub Eropa lainnya? Atau justru akan diadopsi oleh pemain-pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri?



