Khadija Shaw Bertahan di Manchester City: Kunci Dominasi The Citizens di Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Penyerang asal Jamaika itu membatalkan rencana hengkang dengan meneken kontrak baru berdurasi empat tahun di hadapan 19.000 suporter.
- Keputusan Shaw menjadi fondasi ambisi City mempertahankan gelar ganda domestik dan bersaing di Liga Champions musim depan.
- Tanpa Shaw, City diprediksi kehilangan ketajaman lini depan yang telah menghasilkan 21 gol di WSL musim ini.

Khadija Shaw memastikan masa depannya bersama Manchester City dengan menandatangani kontrak baru berdurasi empat tahun, sebuah keputusan mengejutkan yang diumumkan di tengah parade perayaan klub, Senin (20/5). Penyerang berusia 29 tahun itu sebelumnya santer dikabarkan akan hengkang, namun akhirnya memilih bertahan di klub yang membesarkan namanya.
Keputusan Shaw menjadi pilar utama ambisi City untuk terus mendominasi sepak bola wanita Inggris. Musim ini, ia menjadi motor di balik raihan ganda: gelar Women's Super League (WSL) yang memutus hegemoni Chelsea selama enam tahun, serta trofi FA Cup pertama sejak 2020. Dalam laga final FA Cup melawan Brighton, Shaw mencetak gol pembuka dan assist untuk gol ketiga, memastikan kemenangan 4-0.
Pelatih Andree Jeglertz menegaskan bahwa Shaw adalah elemen yang tak tergantikan dalam skema permainannya. "Kami bermain dengan cara tertentu untuk memaksimalkan potensinya. Dia adalah pemain yang luar biasa dan kami sangat senang dia bertahan," ujar Jeglertz. Ia juga memuji profesionalisme Shaw yang tetap tampil konsisten meski diterpa spekulasi transfer.
Shaw mengakui bahwa keputusan bertahan tidak mudah. "Manchester adalah rumah saya. Butuh waktu, tapi akhirnya kami mencapai kesepakatan," katanya. Ia juga mengaku gugup saat mengumumkan kontrak barunya di depan para penggemar yang sempat cemas akan kepergiannya. Chelsea disebut-sebut sebagai klub yang paling berniat merekrutnya.
Kini, tantangan City adalah membangun fondasi yang kokoh untuk meraih kesuksesan berkelanjutan. Mantan striker City, Ellen White, menekankan pentingnya evolusi skuad. "Mereka harus terus mendatangkan pemain baru. Ini adalah awal, bukan akhir," ujarnya. Sementara itu, mantan penyerang Inggris Sue Smith mengingatkan bahwa musim depan akan menjadi ujian berbeda karena City harus membagi fokus antara kompetisi domestik dan Liga Champions.
City memang belum diuji di Eropa musim ini karena absen dari Liga Champions. Kedalaman skuad yang membaik, dengan perpaduan pemain muda dan berpengalaman, akan menjadi kunci. Jeglertz menegaskan bahwa rasa lapar akan gelar harus terus dijaga. "Kami tidak boleh merasa puas. Ini adalah langkah untuk naik ke level berikutnya," tegasnya.
Dengan Shaw yang tetap menjadi ujung tombak, City optimistis dapat membangun dinasti yang mereka idamkan. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka mempertahankan konsistensi dan bersaing di papan atas Eropa? Jawabannya akan terjawab mulai musim depan.



