Foster Sylvers, Vokal Utama 'Boogie Fever', Tutup Usia di 64 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Foster Sylvers, penyanyi cilik yang meledak lewat 'Misdemeanor' dan kemudian menjadi andalan grup keluarga The Sylvers, meninggal akibat kanker prostat pada usia 64 tahun.
- Kariernya yang membentang lebih dari empat dekade mencakup sukses solo, puncak tangga lagu bersama The Sylvers, serta kolaborasi di balik layar dengan nama-nama besar R&B.
- Di balik prestasi musiknya, Sylvers juga memiliki catatan hukum berupa hukuman penjara atas tindak pidana seksual dan terdaftar dalam daftar pelanggar seks California.

Foster Sylvers, penyanyi cilik yang namanya melesat berkat hit solo Misdemeanor dan kemudian menjadi motor utama grup keluarga The Sylvers dengan lagu ikonik Boogie Fever, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (30/5) dalam usia 64 tahun setelah berjuang melawan kanker prostat.
Lahir di Memphis, Tennessee, Sylvers mengawali karier di usia 11 tahun ketika Misdemeanorโyang ditulis oleh kakaknya, Leon Sylvers IIIโmeroket ke posisi 7 tangga lagu R&B Billboard dan nomor 22 di Hot 100 pada 1973. Kesuksesan itu membawanya tampil di American Bandstand dan Soul Train, dua acara musik paling bergengsi era itu, menjadikannya salah satu artis termuda yang menembus tangga lagu nasional.
Setelah merilis album kedua pada 1974, Sylvers bergabung dengan The Sylvers setahun kemudian. Grup keluarga yang sudah mulai menanjak itu langsung mencapai puncak popularitas. Bersama sang kakak, Edmund Sylvers, ia berbagi vokal utama di Boogie Fever (1976), lagu disko yang menduduki puncak Billboard Hot 100 dan Hot Soul Singles. Hingga kini, lagu tersebut masih menjadi andalan dalam daftar putar klasik soul, funk, dan disko.
The Sylvers menjelma sebagai salah satu grup keluarga paling menonjol di dekade 1970-an, bersaing dengan The Jackson 5. Perpaduan soul, funk, dan disko yang mereka usung mendapat pujian luas. Di luar panggung, Sylvers mengembangkan karier sebagai penulis lagu, produser, dan kolaborator studio. Mengikuti jejak Leon yang menjadi produser R&B papan atas, ia bekerja sama dengan artis seperti Dynasty dan Evelyn 'Champagne' King. Pada 1984, ia ikut menulis dan membawakan Shake Down yang menjadi hit R&B, serta kemudian merilis musik di bawah nama Foster Sylvers and Hy-Tech melalui EMI America dan A&M Records.
Namun, kehidupan Sylvers tak lepas dari kontroversi. Pada 1994, ia dihukum karena tindak pidana seksual dan menjalani hukuman penjara. Ia kemudian tercatat dalam Daftar Pelanggar Seks California. Catatan ini menjadi bayang-bayang di balik pencapaian musiknya yang gemilang.
Bagi pencinta musik Indonesia yang akrab dengan era disko, Boogie Fever kerap diputar di stasiun radio retro dan menjadi bagian dari nostalgia musik Barat tahun 1970-an. Kepergian Sylvers menutup satu babak penting dalam sejarah R&B dan disko, meninggalkan warisan lagu-lagu yang terus dikenang lintas generasi. Pertanyaan yang tersisa: bagaimana industri musik akan mengenang figur yang prestasi dan kontroversinya berjalan beriringan?



