Hoaks! Video Dedi Mulyadi Tebak Kata Berhadiah Ratusan Juta Ternyata Rekayasa AI
Baca dalam 60 detik
- Unggahan Facebook yang menampilkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menawarkan kuis tebak kata berhadiah ratusan juta rupiah dipastikan palsu.
- Video tersebut merupakan hasil manipulasi menggunakan kecerdasan buatan, dengan audio yang 73,3 persen dihasilkan AI dan visual hanya 0,3 persen buatan AI.
- Masyarakat diimbau waspada terhadap modus penipuan serupa yang memanfaatkan figur publik dan teknologi deepfake untuk menjaring data pribadi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
Sebuah unggahan di Facebook yang mengklaim Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengadakan kuis tebak kata dengan hadiah ratusan juta rupiah ternyata tidak benar. Video yang beredar luas itu merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menyalahgunakan citra sang gubernur untuk menjerat korban.
Unggahan tersebut muncul pada 25 Mei 2026 dari akun Facebook yang tidak bertanggung jawab. Dalam video, Dedi Mulyadi tampak menawarkan teka-teki sederhana—"Ayo tebak nama pulau yang terletak di timur. P_P_A"—dan menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang bisa menjawab. Korban diminta mengirimkan jawaban beserta nomor WhatsApp melalui pesan messenger.
Tim Cek Fakta LyndHub menelusuri asal-usul video tersebut. Dengan menggunakan penelusuran gambar, ditemukan bahwa klip yang digunakan identik dengan unggahan asli Dedi Mulyadi di akun Instagram @dedimulyadi71 pada 31 Januari 2025. Namun, dalam unggahan aslinya, Dedi Mulyadi sedang memberikan tanggapan mengenai demonstrasi yang menuntut pembukaan kembali tambang ilegal—bukan mengadakan kuis berhadiah.
Untuk memastikan keaslian video, tim menggunakan perangkat pendeteksi AI melalui situs Hive Moderation. Hasilnya mengungkap bahwa bagian visual video hanya 0,3 persen merupakan buatan AI, sementara audio mencapai 73,3 persen dihasilkan oleh AI. Artinya, wajah dan gerak tubuh Dedi Mulyadi sebagian besar asli, namun suara dan narasi kuis telah dimanipulasi sepenuhnya menggunakan teknologi deepfake audio.
Fenomena ini bukanlah yang pertama. Modus penipuan dengan memanfaatkan figur publik—mulai dari pejabat, artis, hingga tokoh agama—semakin marak seiring kemajuan teknologi AI. Pelaku biasanya menyisipkan tautan atau nomor kontak untuk mengumpulkan data pribadi korban, yang kemudian dapat digunakan untuk penipuan lebih lanjut atau pencurian identitas.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna media sosial, kejadian ini menjadi pengingat untuk selalu kritis terhadap konten yang mengiming-imingi hadiah mudah. Pemerintah dan platform digital pun didorong untuk memperkuat deteksi konten manipulatif, mengingat dampaknya bisa merugikan secara finansial dan psikologis.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: seberapa siapkah Indonesia menghadapi gelombang deepfake yang kian canggih? Regulasi dan literasi digital harus berjalan beriringan agar warga tidak mudah terjerat jaring penipuan berbasis AI.



