Kepulangan Jemaah Haji Indonesia Dimulai 1 Juni: Kloter Awal Berangkat 22 April
Baca dalam 60 detik
- Pemulangan jemaah haji Indonesia tahap pertama dijadwalkan pada 1 Juni 2026 melalui Bandara Jeddah, dengan kloter yang berangkat lebih awal dipulangkan lebih dulu.
- Jadwal kepulangan menjadi acuan utama penyusunan skema transportasi, akomodasi, dan penanganan jemaah sakit, dengan toleransi perubahan maksimal 20 persen.
- Petugas masih menyelesaikan layanan bagi jemaah nafar tsani, sementara evaluasi penyelenggaraan akan dilakukan untuk perbaikan tahun depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7315060/original/005258400_1780100553-Jemaah_haji_Indonesia_berjalan_dari_tenda_Mina_ke_Jamarat.__dok._Media_Center_Haji_2026__.jpg)
Pemerintah Indonesia memulai proses pemulangan jemaah haji dari Arab Saudi pada 1 Juni 2026, dengan kloter pertama yang berangkat dari Tanah Air pada 22 April menjadi prioritas untuk dipulangkan lebih awal. Langkah ini diambil setelah fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) hampir rampung, memastikan arus kepulangan berjalan tertib dan terukur.
Irjen Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi, menjelaskan bahwa skema kepulangan disusun berdasarkan jadwal keberangkatan kloter dari Indonesia. “Kloter pertama dari Tanah Air itu berangkat tanggal 22 April. Idealnya mereka menjadi rombongan pertama yang pulang tanggal 1 Juni,” ujarnya di Mina, Makkah, Jumat (29/5). Jadwal ini menjadi fondasi bagi seluruh rangkaian operasional, mulai dari penjadwalan penerbangan, pergerakan bus menuju bandara, hingga kesiapan hotel di Arab Saudi.
Meski jadwal telah ditetapkan, Dendi mengakui kemungkinan perubahan tetap ada. Namun, ia memperkirakan fluktuasi tidak akan melebihi 20 persen dari jadwal awal. “Berawal dari jadwal itulah nanti kloter menyiapkan diri, termasuk jemaah yang belum tawaf wada dan jemaah sakit di rumah sakit,” katanya. Fleksibilitas ini penting mengingat kondisi di lapangan, seperti cuaca atau kebutuhan medis mendadak, yang dapat memengaruhi waktu kepulangan.
Selain fokus pada kepulangan, petugas masih menuntaskan layanan bagi jemaah nafar tsani—mereka yang kembali ke hotel di Makkah setelah menyelesaikan lontar jumrah di Mina. Dendi menilai pelaksanaan ibadah haji tahun ini secara umum berjalan baik, meski masih ditemukan kendala kecil. “Ada kekurangan itu pasti, tapi yang penting akan kita evaluasi untuk perbaikan ke depan,” ucapnya. Catatan evaluasi ini diharapkan menjadi masukan bagi penyelenggaraan haji tahun 2027.
Bagi jemaah yang akan pulang, Dendi mengingatkan untuk mempersiapkan barang bawaan dengan baik. Koper tidak boleh melebihi batas berat yang ditentukan, dan pengemasan harus rapi agar tidak dibongkar petugas. Ia juga menekankan aturan membawa air zamzam agar proses di bandara berjalan lancar. Imbauan ini krusial mengingat pengalaman tahun-tahun sebelumnya di mana koper kelebihan muatan sering menghambat proses check-in.
Dengan dua gelombang pemulangan—gelombang pertama melalui Jeddah (1–15 Juni) dan gelombang kedua melalui Madinah (7–30 Juni)—arus kepulangan diharapkan tidak menumpuk di satu titik. Skema ini juga mempertimbangkan kapasitas bandara dan ketersediaan transportasi darat. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana evaluasi tahun ini mampu menekan kendala serupa di masa mendatang, terutama terkait koordinasi antarlembaga dan kepatuhan jemaah terhadap aturan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7612616/original/026915700_1780398169-1000596458__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)