Becky Hill Balas Hinaan Jack Whitehall Lewat Lagu, Sentil Elitisme Kelas Atas
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Becky Hill mengungkap bahwa lagu 'Daddy Range Rover' di album barunya terinspirasi dari hinaan Jack Whitehall yang menyebutnya 'Wetherspoons Whitney'.
- Hinaan tersebut dianggap sebagai bentuk 'punch down' yang merendahkan kelas pekerja, memicu perdebatan tentang privilese di industri musik Inggris.
- Becky Hill menegaskan bahwa ia bangga dengan aksen Midlands-nya dan mengkritik komedian yang berasal dari latar belakang pendidikan elit.

Penyanyi dan penulis lagu asal Inggris, Becky Hill, kembali melontarkan kritik pedas kepada komedian Jack Whitehall atas candaan yang menyebutnya “Wetherspoons Whitney” pada ajang BRIT Awards tahun lalu. Hinaan yang dianggap merendahkan kelas pekerja itu kini diabadikan dalam lagu terbarunya, ‘Daddy Range Rover’, yang menjadi bagian dari album ketiganya bertajuk Rebecca.
Dalam wawancara dengan NME, Hill mengungkapkan bahwa candaan Whitehall yang menyebut aksen Midlands-nya sebagai representasi kelas bawah sangat menyakitkan. “Saya bisa menerima perbandingan dengan Whitney Houston, tapi bagaimana berani dia merendahkan saya dengan menyebut ‘Wetherspoons Whitney’? Dari mana asalnya dia?” ujar Hill dengan nada kesal. Ia menilai tindakan Whitehall sebagai bentuk “punch down” — menghina mereka yang berada di posisi lebih rendah secara sosial-ekonomi.
Insiden ini memicu perdebatan luas tentang privilese di industri hiburan Inggris. Whitehall, yang dikenal sebagai lulusan sekolah swasta bergengsi, dianggap tidak sensitif terhadap perjuangan kelas pekerja. Hill, yang lahir dan besar di Worcestershire, menegaskan bahwa aksen dan latar belakangnya bukanlah bahan ejekan. “Orang tua saya bekerja keras memberikan kehidupan kelas menengah, meski sebenarnya mereka tidak mampu. Saya tidak mendapat bantuan apa pun, tidak bisa sekolah di BRIT School karena jauh dari London,” tulisnya di Instagram setelah kejadian.
Tak hanya lagu ‘Daddy Range Rover’, Hill juga mengungkapkan bahwa single terbarunya ‘More! More! More!’ terinspirasi dari frustrasi melihat kelas pekerja terus-menerus tertindas, terutama di tengah krisis biaya hidup. “Banyak orang berjuang keras hanya untuk memberi makan keluarga, membayar listrik, atau bertahan hidup. Kita sering merasa diinjak-injak dan menerima begitu saja,” katanya.
Kritik Hill terhadap Whitehall juga menyoroti kesenjangan kelas dalam industri musik Inggris. Banyak pemenang BRIT Awards, termasuk Whitehall sendiri, berasal dari latar belakang istimewa. Hill menekankan bahwa ia tidak pernah mendapat “leg up” — bantuan atau koneksi — dalam kariernya. “Jika Anda mengaitkan aksen Midlands dengan Wetherspoons, itu lebih banyak bicara tentang sendok perak di mulut Anda,” sindirnya.
Di Indonesia, isu kesenjangan kelas dan privilese juga kerap menjadi perbincangan hangat, terutama di industri kreatif. Banyak musisi dan seniman dari daerah yang merasa kesulitan menembus pasar Jakarta karena keterbatasan akses dan modal. Kasus Hill bisa menjadi cermin bahwa perjuangan melawan stereotip kelas masih relevan, bahkan di negara maju sekalipun.
Ke depan, publik menantikan apakah Whitehall akan merespons balik kritik Hill atau memilih diam. Sementara itu, Hill terus menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan kelas pekerja. Akankah lagu ‘Daddy Range Rover’ menjadi anthem baru bagi mereka yang merasa direndahkan?



