Liverpool Bidik Sebastian Hoeness sebagai Penerus Klopp: Alternatif Gaya Gegenpressing
Baca dalam 60 detik
- Liverpool memasukkan pelatih Stuttgart, Sebastian Hoeness, dalam daftar kandidat pengganti Arne Slot, bersaing dengan Andoni Iraola.
- Hoeness dianggap memiliki pendekatan sepak bola berintensitas tinggi ala Jurgen Klopp, dengan rekor membawa Stuttgart dari jurang degradasi ke papan atas Bundesliga.
- FSG masih memprioritaskan Iraola, tetapi profil Hoeness sebagai 'Klopp berikutnya' dinilai cocok untuk mengembalikan identitas Liverpool yang agresif.

Liverpool dikabarkan tengah menjajaki negosiasi dengan pelatih Stuttgart, Sebastian Hoeness, sebagai salah satu kandidat kuat pengganti Arne Slot pada musim 2026/2027. Langkah ini muncul di tengah tekanan untuk mengembalikan kejayaan klub setelah musim yang diwarnai ketidakstabilan performa dan ketegangan internal.
Menurut laporan jurnalis The Athletic, David Ornstein, manajemen Liverpool yang diwakili Fenway Sports Group (FSG) telah menyusun daftar alternatif selain Andoni Iraola yang sebelumnya menjadi favorit. Hoeness, yang baru berusia 43 tahun, dinilai memiliki pendekatan sepak bola berintensitas tinggi dan kemampuan membangkitkan tim dari keterpurukan—kualitas yang mengingatkan pada era Jurgen Klopp.
Keputusan untuk mempertimbangkan Hoeness tidak lepas dari kegagalan Slot mempertahankan konsistensi. Meski sukses meraih gelar Premier League musim lalu, Slot dianggap gagal mengatasi penurunan performa tim yang berujung pada finis di peringkat kelima. Atmosfer ruang ganti yang mulai toksik, ditambah kritik dari bintang seperti Mohamed Salah, mempercepat proses evaluasi manajemen.
Perbandingan dengan Klopp bukan tanpa dasar. Hoeness memulai karier kepelatihan di akademi Stuttgart sebelum menangani tim utama, dan dalam waktu singkat berhasil mengubah wajah klub. Pendekatannya yang agresif dan personalitas besarnya diyakini mampu menyuntikkan kembali semangat juang yang hilang di Anfield. "Dia adalah pribadi yang besar, tipe pelatih yang bisa membenamkan diri dalam kehidupan Merseyside, seperti yang dilakukan Klopp dulu," tulis Ornstein dalam laporannya.
Namun, FSG tetap berhati-hati. Iraola, yang baru saja meninggalkan Bournemouth setelah kontraknya habis, masih menjadi pilihan utama. Pengalamannya di Premier League selama tiga musim dianggap sebagai nilai lebih, meski ia belum pernah menangani klub di kompetisi Eropa. "Iraola sudah terbukti di Inggris, tetapi apakah ia bisa mengelola ekspektasi dan tekanan di Liverpool? Itu masih tanda tanya," ujar seorang analis sepak bola Inggris.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, persaingan antara Iraola dan Hoeness menarik untuk diikuti. Keduanya mewakili dua pendekatan berbeda: pengalaman lokal versus potensi inovasi ala Jerman. Jika Hoeness terpilih, gaya bermain Liverpool diprediksi akan kembali ke akar gegenpressing yang pernah mendominasi Eropa—sebuah skema yang juga populer di kalangan penggemar Tanah Air yang mengidolakan era Klopp.
Pertanyaan besarnya: akankah FSG berani mengambil risiko dengan pelatih yang belum pernah bekerja di luar Jerman, atau tetap pada pilihan aman bersama Iraola? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan arah Liverpool dalam beberapa musim ke depan, tetapi juga menjadi ujian bagi strategi rekrutmen manajemen di bawah tekanan suporter.


