Peter Shilton Akhirnya Buka Suara: Ketakutan Jadi Penghalang Utama Atasi Kecanduan Judi
Baca dalam 60 detik
- Mantan kiper Timnas Inggris Peter Shilton mengaku sempat enggan mencari bantuan karena khawatir kecanduannya bocor ke media.
- Ia kehilangan lebih dari ยฃ1 juta selama 45 tahun akibat taruhan kuda, sebelum akhirnya berhenti pada 2015 berkat sang istri.
- Shilton mendirikan yayasan Shiltons' Silverlining untuk membantu rehabilitasi pecandu judi, didukung sejumlah legenda sepak bola dan kriket.

Peter Shilton, kiper legendaris Inggris dengan 125 caps, mengakui bahwa rasa takut menjadi penghalang terbesarnya untuk pulih dari kecanduan judi. Pria 76 tahun itu khawatir aibnya akan tersebar luas di media massa jika ia mencari pertolongan.
Selama 45 tahun, Shilton kehilangan lebih dari ยฃ1 juta akibat taruhan pacuan kuda. Ia baru benar-benar berhenti pada 2015 setelah mendapat dukungan dari istrinya, Steph, yang berprofesi sebagai konselor kecanduan. Kini, ia meluncurkan yayasan bernama Shiltons' Silverlining untuk membantu para pecandu judi lainnya.
"Menjadi figur publik membuat segalanya sulit. Anda takut jika rahasia ini bocor, pers akan membesar-besarkannya," ujar Shilton dalam wawancara dengan BBC Essex. "Steph bekerja keras pada saya selama bertahun-tahun hingga akhirnya saya sadar. Ini penyakit diam-diam yang mengerikan."
Yayasan yang didirikan Shilton bertujuan membantu rehabilitasi, pengelolaan utang, serta pencegahan kecanduan judi. Langkah ini mendapat dukungan dari mantan rekan setimnya, Gary Lineker, Terry Butcher, Paul Parker, dan legenda kriket Graham Gooch.
Shilton, yang namanya identik dengan gol "Tangan Tuhan" Diego Maradona di Piala Dunia 1986, mengaku bahwa iklan judi sering menampilkan sisi menyenangkan. "Iklan selalu menggambarkan judi sebagai hal yang seru. Tapi ada sisi gelap yang tidak mereka tunjukkan. Kami ingin membantu mereka yang sudah terperosok ke titik terendah," tegasnya.
Steph Shilton mengungkapkan bahwa angka bunuh diri akibat judi yang memilukan menjadi pendorong utama pendirian yayasan. "Peter menatap saya dan berkata, 'Kita belum berbuat cukup, harus lebih.' Kematian-kematian itu tidak perlu terjadi," ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat maraknya iklan judi online yang menargetkan berbagai kalangan. Regulasi yang longgar dan minimnya literasi keuangan membuat banyak orang rentan terjerat. Kasus Shilton menjadi pengingat bahwa kecanduan judi tidak mengenal status sosial, dan dukungan keluarga serta akses rehabilitasi sangat krusial.
Dengan pengalaman pahit yang dialaminya, Shilton berharap yayasannya bisa menjadi jembatan bagi para pecandu untuk pulih. Pertanyaannya, mampukah langkah ini menginspirasi perubahan kebijakan yang lebih ketat terhadap industri judi, baik di Inggris maupun di negara lain?



