Jepang Panggung Utama di Cannes: Industri Film dan IP Global Kini Berburu Konten Negeri Sakura
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya Jepang menjadi Country of Honor di Marche du Film Cannes, menandai pengakuan atas kekuatan IP anime, manga, dan game yang kini mendunia.
- Tiga film Jepang masuk kompetisi Palme d'Or, sementara di pasar film terjadi perburuan konten Jepang yang didorong oleh kesuksesan box office global seperti Super Mario Bros.
- Kesempatan ini membuka peluang bagi sineas muda Jepang dan produser Indonesia untuk menjajaki kerja sama lintas negara, meski film live-action masih tertinggal dari anime.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Jepang dinobatkan sebagai Country of Honor di Marche du Film, pasar film terbesar dunia yang berlangsung bersamaan dengan Festival Film Cannes ke-79. Penunjukan ini bukan sekadar seremoni—ia menempatkan Jepang di panggung utama baik dari sisi artistik maupun komersial perfilman global, dengan tiga sutradara Jepang bersaing memperebutkan Palme d'Or dan sederet inisiatif bisnis yang melibatkan raksasa industri seperti Toho, Toei, Shochiku, dan Kadokawa.
Marche du Film yang mempertemukan 15.000 peserta dari 140 negara setiap tahunnya memilih satu negara untuk diberi dukungan penuh melalui acara khusus dan promosi terpadu. Guillaume Esmiol, direktur eksekutif Marche, menyebut Jepang dipilih karena merupakan negara pembuat film utama dengan pasar yang kuat dan kreativitas luar biasa. Ia juga menekankan bahwa kekayaan intelektual (IP) Jepang—mulai dari anime, manga, hingga game—telah mengalami pertumbuhan fenomenal dalam beberapa tahun terakhir dan kini menjadi komoditas yang diperebutkan di Hollywood.
Data dari Sony Pictures Entertainment menunjukkan betapa dahsyatnya daya tarik IP Jepang. Waralaba Sonic the Hedgehog yang lahir dari gim Sega menjadi sukses besar di masa pandemi, sementara dua film Super Mario Bros. yang dirilis pada 2023 dan 2026 meraup lebih dari 300 miliar yen (sekitar Rp31 triliun) di seluruh dunia. Crunchyroll, platform streaming anime di bawah Sony Group, kini memiliki lebih dari 20 juta pelanggan—tiga kali lipat dibanding satu dekade lalu. Sanford Panitch, presiden Sony Pictures Motion Picture Group, dalam simposium bertajuk “The Global Impact of Japanese Intellectual Property” pada 14 Mei lalu menegaskan bahwa IP Jepang sudah tidak lagi menjadi barang niche. “Ia memiliki penonton di seluruh dunia,” ujarnya.
Di luar gemerlap anime, film live-action Jepang masih menghadapi tantangan besar untuk menembus pasar global. Sutradara dengan reputasi internasional seperti Ryusuke Hamaguchi (All of a Sudden), Koji Fukada (Nagi Notes), dan Hirokazu Kore-eda (Sheep in the Box) memang memiliki jalur lebih mulus berkat jaringan koproduksi dan kepercayaan yang sudah terbangun. Namun, jumlah sutradara sekelas mereka masih sangat terbatas. Bagi sineas muda, promosi agresif dan dukungan institusi menjadi kunci. Japan IP Market yang sebelumnya digelar di Tokyo International Film Festival untuk pertama kalinya dipindahkan ke Cannes, mempertemukan tujuh perusahaan Jepang dengan puluhan produser dan distributor asing. Hasilnya, sekitar 80 pertemuan bisnis tercatat, menandakan bahwa dunia benar-benar lapar akan ide-ide dari Jepang.
Bagi Indonesia, momentum ini membuka peluang strategis. Industri kreatif Tanah Air yang tengah mengembangkan IP lokal—baik melalui komik, film, maupun animasi—dapat belajar dari model Jepang dalam membangun fandom global. Kehadiran presiden empat perusahaan film terbesar Jepang di Cannes secara bersama-sama juga menjadi sinyal bahwa kolaborasi lintas negara semakin mungkin, terutama jika Indonesia mampu menawarkan cerita orisinal dengan potensi adaptasi internasional. Seperti diungkapkan Yasushi Shiina, wakil ketua komite eksekutif Jepang, “Harapannya, ini bukan sekadar acara satu kali, tetapi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih banyak film dan pembuat film.”
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Indonesia memanfaatkan gelombang minat global terhadap konten Asia ini, atau justru akan kembali menjadi penonton di pasar film dunia yang kian kompetitif?



