Paul McCartney Larang Ponsel di Konser, Kenangan Masa Lalu yang 'Sangat Istimewa'
Baca dalam 60 detik
- Paul McCartney menerapkan larangan ponsel di dua konser intim di Los Angeles, mengembalikan suasana pertunjukan era pra-smartphone.
- Keputusan ini diambil karena sang musisi merasa penonton lebih sibuk merekam daripada menikmati pertunjukan secara langsung.
- Di usianya yang mendekati 84 tahun, McCartney masih menjadi miliarder musik berkat tur, katalog lagu, dan warisan The Beatles.

Legenda The Beatles, Paul McCartney, mengaku sangat menikmati larangan penggunaan telepon genggam di dua konser intimnya di Los Angeles, Maret lalu. Menurutnya, kebijakan itu mengembalikan esensi pertunjukan musik langsung yang telah lama hilang.
Dalam wawancara dengan NME, McCartney menceritakan pengalaman tampil di Fonda Theatre, sebuah klub kecil di LA. Ia memutuskan untuk melarang penonton merekam atau memotret menggunakan ponsel. "Biasanya orang tidak benar-benar menonton pertunjukan, mereka hanya mengangkat ponsel dan akan menontonnya nanti di rumah," ujarnya. "Tanpa ponsel, konser terasa seperti pertunjukan lama, seperti yang biasa dilakukan semua orang. Sungguh istimewa."
Dua konser tersebut merupakan penampilan perdana McCartney setelah menyelesaikan tur besar Got Back Tour yang berlangsung dari 2022 hingga 2025. Kini, di usianya yang akan genap 84 tahun pada 18 Juni mendatang, ia mengaku belum tahu apakah akan melakukan tur besar lagi. "Saya tidak pernah tahu. Saya ingat saat berusia 50 tahun, manajer saya bertanya apakah saya berpikir untuk pensiun. Saya jawab tidak. Dulu kami pikir usia 30 sudah sangat tua, tapi ternyata tidak," kenangnya.
Fenomena larangan ponsel di konser sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah musisi seperti Adele, Bob Dylan, dan The Lumineers pernah menerapkan aturan serupa. Tujuannya sama: mendorong penonton untuk hadir sepenuhnya secara fisik dan mental. Di era media sosial, momen konser sering kali dikorbankan demi konten Instagram atau TikTok. McCartney, dengan pengalaman puluhan tahun, menilai bahwa kehadiran fisik tanpa layar kaca justru memperkuat ikatan emosional antara artis dan penonton.
Di tengah pembicaraan tentang masa depan tur, McCartney juga menegaskan pentingnya pertunjukan langsung bagi musik klasik. "Jika musik berasal dari periode tertentu, penonton tidak bisa mendengarkannya secara langsung dengan cara lain. Anda harus mendengar Neil Young live untuk merasakan 'Neil feel'. Sama dengan banyak band lainโThe Stones, The Eagles. Tidak ada yang bisa menandingi itu," tegasnya.
Keputusan McCartney untuk melarang ponsel juga bisa menjadi pelajaran bagi industri musik Indonesia. Di tengah maraknya konser yang dipadati layar ponsel, promotor dan musisi tanah air mungkin perlu mempertimbangkan kebijakan serupa untuk meningkatkan kualitas pengalaman menonton. Apalagi, Indonesia memiliki basis penggemar musik yang besar dan antusias. Pertanyaannya, apakah penonton Indonesia siap melepas ponsel demi momen yang lebih autentik?



