Kursi ASEAN dan ‘Keaslian’: Bisakah Filipina Mengejar Ketertinggalan Pariwisata?
Baca dalam 60 detik
- Filipina hanya menyerap 2,1 juta dari 48,5 juta kunjungan wisatawan ASEAN pada kuartal pertama 2025, tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand.
- Kegagalan mencapai target 7,7 juta wisatawan pada 2024 mendorong Manila mengandalkan status ketua ASEAN dan promosi ‘authentic tourism’ untuk menarik wisatawan regional.
- Tantangan utama meliputi konektivitas penerbangan terbatas, infrastruktur bandara yang belum memadai, dan biaya perjalanan yang relatif tinggi dibandingkan tetangga.

Kursi keketuaan ASEAN yang dipegang Filipina pada 2025 menjadi momentum yang ingin dimanfaatkan Manila untuk membalikkan keadaan sektor pariwisata yang masih tertatih. Namun, tanpa perbaikan aksesibilitas dan infrastruktur, status tersebut mungkin hanya menjadi simbol belaka.
Data dari firma intelijen perjalanan Outbox Company menunjukkan bahwa Filipina hanya menerima 5,9 juta wisatawan asing sepanjang 2024, jauh dari target 7,7 juta. Angka itu kontras dengan pencapaian Malaysia (13,4 juta) dan Thailand (12,09 juta) yang memimpin kawasan. Pada empat bulan pertama 2025, dari total 48,5 juta kunjungan wisatawan di ASEAN, Filipina hanya kebagian 2,1 juta—atau kurang dari 5 persen.
Juru bicara Departemen Pariwisata Filipina, Ina Zara-Loyola, menyatakan bahwa pihaknya kini menyusun intervensi yang lebih terarah agar Filipina menjadi pilihan utama bagi wisatawan regional yang kian makmur. “Kami menyesuaikan pendekatan untuk memastikan Filipina selalu diingat sebagai destinasi,” ujarnya kepada media lokal pekan ini.
Strategi yang digadang-gadang adalah promosi “authentic tourism”—pengalaman lokal yang otentik di luar pantai pasir putih yang sudah terkenal. Namun, para analis menilai bahwa tanpa peningkatan konektivitas udara dan infrastruktur bandara, pesona otentisitas saja tidak cukup. Bandara Ninoy Aquino di Manila kerap dikeluhkan karena kepadatan dan fasilitas terbatas, sementara bandara-bandara di provinsi masih minim rute internasional langsung.
Bagi Indonesia, persaingan pariwisata di ASEAN ini menjadi cermin. Dengan jumlah wisatawan 13,9 juta pada 2024, Indonesia masih di bawah Thailand dan Malaysia, namun unggul jauh dari Filipina. Pelajaran dari Manila adalah bahwa status tuan rumah atau ketua organisasi regional harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan kemudahan akses. Jika tidak, potensi wisatawan yang melimpah hanya akan lewat ke negara tetangga.
Ke depan, Filipina perlu membuktikan apakah inisiatif seperti pengembangan bandara baru di Bulacan dan perluasan rute penerbangan dari Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok dapat terealisasi tepat waktu. Pertanyaan besarnya: mampukah Manila mengubah sorotan diplomatik menjadi peningkatan kunjungan nyata, atau justru akan kembali gagal mengejar ketertinggalan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7511706/original/010647000_1780283924-IMG_0728.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6504511/original/082113700_1779361666-menhan-sebut-situasi-panas-laut-china-selatan-sudah-meredup.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7495724/original/000776200_1780267944-Gibran_Waisak.jpg)