Wapres Gibran Serukan Umat Buddha Jadi Pelopor Perdamaian di Puncak Waisak 2026
Baca dalam 60 detik
- Gibran Rakabuming Raka menekankan peran umat Buddha sebagai agen perdamaian dalam perayaan Tri Suci Waisak 2026 di Candi Borobudur.
- Perayaan Waisak tahun ini menjadi simbol toleransi dan persatuan di tengah keberagaman Indonesia, sekaligus pengingat nilai-nilai luhur agama Buddha.
- Ribuan umat dari dalam dan luar negeri mengikuti prosesi kirab api dan air berkah, menegaskan komitmen Indonesia sebagai rumah bersama yang damai.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7495724/original/000776200_1780267944-Gibran_Waisak.jpg)
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak umat Buddha Indonesia untuk terus menjadi garda terdepan dalam menebarkan perdamaian, saat menghadiri puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2026 di Candi Borobudur, Minggu malam (31/5). Ajakan itu disampaikan di hadapan ribuan umat yang memadati kompleks candi warisan dunia tersebut, menandai momen sakral yang tidak hanya religius tetapi juga sarat makna kebangsaan.
Dalam sambutannya, Gibran menegaskan bahwa perayaan Waisak di Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan cerminan nyata bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi perdamaian dan menghargai keberagaman. "Indonesia sebagai bangsa yang besar membutuhkan persatuan dan perdamaian sebagai modal pembangunan," ujarnya, mengutip pernyataan yang disiarkan melalui laman resmi Kementerian Agama. Ia menambahkan, nilai-nilai Buddha seperti metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), dan panna (kebijaksanaan) sangat relevan untuk menjawab kompleksitas kehidupan modern.
Wapres juga mengapresiasi kontribusi umat Buddha dalam menjaga harmoni sosial, mulai dari kegiatan kemanusiaan, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat. "Mari kita wariskan kepada anak cucu Indonesia yang rukun, adil, dan bermartabat," pesannya. Seruan ini menjadi pengingat bahwa toleransi lintas agama adalah fondasi yang harus terus diperkuat di tengah dinamika sosial politik yang kerap memanas.
Bagi Indonesia, perayaan Waisak di Borobudur memiliki bobot lebih dari sekadar seremoni tahunan. Di tengah meningkatnya polarisasi global dan ancaman intoleransi, ajakan Wapres untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan menjadi relevan. Para pengamat menilai, keterlibatan langsung pejabat tinggi negara dalam acara keagamaan minoritas menunjukkan komitmen pemerintah terhadap kebhinekaan. Hal ini juga memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan toleransi tinggi di kancah internasional.
Prosesi tahun ini berlangsung meriah namun khidmat. Ribuan peserta berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Borobudur, membawa api abadi dan air berkah yang telah disucikan. Suasana semakin syahdu saat para bhikku memimpin doa bersama, menggemakan cinta sebagai sumber perdamaian dunia. Gibran sendiri hadir didampingi sejumlah pejabat daerah, menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan lokal dalam mendukung kegiatan keagamaan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pesan perdamaian ini dapat diterjemahkan dalam kebijakan nyata, terutama dalam melindungi hak-hak minoritas dan memperkuat moderasi beragama. Dengan momentum Waisak 2026 yang berhasil menyatukan ribuan umat, harapannya toleransi tidak hanya menjadi slogan, melainkan praktik sehari-hari di seluruh pelosok negeri.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7684313/original/037026700_1780480342-IMG_1064.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7660064/original/061589800_1780453537-IMG_0808.jpeg)
