Malen Buka Suara: Gasperini Kunci di Balik Kepindahannya ke Roma
Baca dalam 60 detik
- Donyell Malen resmi menandatangani kontrak jangka panjang bersama Roma hingga 2030 setelah musim debut gemilang dengan 14 gol di Serie A.
- Pelatih Gian Piero Gasperini disebut sebagai faktor utama yang meyakinkan Malen bergabung, dengan pendekatan personal yang membuatnya merasa dihargai.
- Malen menolak perbandingan dengan Ronaldo, menegaskan fokusnya hanya pada kontribusi nyata untuk klub.

Donyell Malen akhirnya buka suara soal kepindahannya ke AS Roma. Penyerang asal Belanda itu mengungkapkan bahwa peran pelatih Gian Piero Gasperini menjadi faktor penentu dalam keputusannya bergabung dengan I Giallorossi. Malen baru saja menandatangani kontrak permanen hingga 2030 setelah musim debut yang luar biasa di ibu kota Italia.
Pemain berusia 27 tahun itu mencatatkan 14 gol dalam 18 penampilan Serie A musim lalu, membantu Roma lolos ke Liga Champions. Performa impresif ini kontras dengan masa frustrasinya di Aston Villa. Dalam wawancara perdananya sejak meneken kontrak baru, Malen mengakui bahwa Gasperini langsung membuatnya merasa menjadi bagian penting dari proyek klub.
“Yang meyakinkan saya? Tentu saja nama besar Roma dan klub itu sendiri, tapi juga ambisi klub dan pelatih kami,” ujar Malen seperti dikutip Retesport.it. “Saat kami berbicara, hanya dalam beberapa kata, dia langsung membuat saya merasa penting dan menjadi pusat dari proyek ini.”
Malen juga merendah saat ditanya apakah ia menduga akan langsung sukses di Serie A. Ia menekankan bahwa pencapaiannya tidak lepas dari dukungan rekan setim dan kepercayaan pelatih yang menempatkannya sebagai ujung tombak serangan sejak awal. “Saya tentu berharap dan percaya bisa tampil baik. Tapi jika saya mencapai angka itu dan mencetak banyak gol, itu berkat bantuan rekan setim di lapangan dan pelatih yang menempatkan saya di pusat serangan sejak awal,” katanya.
Ketika ditanya soal gol terpentingnya bersama Roma, Malen tidak memilih gol spektakuler, melainkan penalti krusial saat melawan Parma. “Mungkin bukan yang terindah karena itu penalti, tapi tendangan penalti yang saya cetak di Parma sangat fundamental bagi posisi kami di klasemen. Saat itu saya juga merasakan betul kegembiraan para pendukung,” kenangnya.
Malen juga menanggapi perbandingan dengan legenda Brasil, Ronaldo, yang sempat mencuat di kalangan fans Roma. Dengan rendah hati, ia menepis perbandingan tersebut. “Ronaldo adalah pemain sepak bola level lain. Tapi bagi saya, cukup untuk mencetak gol dan mencetaknya untuk Roma, membantu klub mencapai tujuannya,” tegasnya.
Keputusan Roma mengikat Malen hingga 2030 menunjukkan keyakinan klub terhadap masa depannya. Dengan usia yang masih produktif dan performa yang terus meningkat, Malen diproyeksikan menjadi pilar utama lini depan Roma dalam beberapa musim ke depan. Pertanyaan besarnya kini: bisakah ia mempertahankan konsistensi dan membawa Roma bersaing di level tertinggi Eropa?



