Sahabat Buka Suara: Taylor Swift Ubah Luka Jadi Karya, Inspirasi bagi Musisi Muda
Baca dalam 60 detik
- Suki Waterhouse, yang pernah menjadi pembuka konser The Eras Tour di London, mengungkapkan kekagumannya pada Taylor Swift yang selalu bangkit dari kesulitan.
- Menurut Waterhouse, setiap pengalaman pahit yang dialami Swift selalu disulap menjadi karya seni yang memperkuat warisan musiknya.
- Swift dinilai sebagai sosok yang royal memberi kesempatan besar kepada musisi lain, sebuah sikap yang langka di industri hiburan global.

Penyanyi dan aktris Suki Waterhouse menyebut Taylor Swift sebagai sosok yang luar biasa tangguh. Di balik gemerlap panggung The Eras Tour, Waterhouse melihat sahabatnya itu telah melewati banyak ujian hidup dan selalu mampu bangkit kembali dengan cara mengubah luka menjadi mahakarya.
Waterhouse, yang membuka konser Swift di Stadion Wembley London tahun lalu, memberikan pernyataan jujur dalam wawancara dengan Variety. Menurutnya, sebagai teman dekat, ia menyaksikan sendiri betapa berat perjalanan yang telah dilalui Swift. โYang selalu saya lihat darinya adalah bagaimana ia berhasil bangkit setiap kali jatuh. Semua yang pernah terjadi padanya berubah menjadi karya seni yang menjadi bagian dari warisannya,โ ujar Waterhouse.
Pujian itu tidak berhenti di situ. Waterhouse juga menyoroti kebiasaan Swift yang gemar memberikan kesempatan besar kepada musisi lain. โHal paling keren dari dirinya adalah ia memberi artis lain peluang luar biasa yang benar-benar mengubah hidup mereka,โ tambahnya. Sikap ini dinilai langka di industri musik yang kerap kompetitif.
Bagi Waterhouse, tampil di hadapan puluhan ribu penonton di Wembley adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ia mengaku telah memvisualisasikan momen itu sejak lama. โSaya bermimpi, bermimpi, dan bermimpi hal ini terjadi. Saya memanifestasikannya dengan sangat keras. Ketika akhirnya terjadi, saya seperti, โYa, mimpi bisa menjadi nyataโ,โ katanya kepada Rolling Stone.
Momen di balik panggung pun terasa begitu istimewa. Dalam wawancara dengan Interview, Waterhouse menggambarkan pengalaman saat pintu otomatis terbuka dan ia melangkah ke panggung raksasa yang selama ini hanya ia lihat di televisi. โItu adalah momen paling nyata dan surealis, dan menjadi sangat spesial karena melakukannya bersama Taylor, yang begitu suportif dan teman yang luar biasa,โ kenangnya.
Kebahagiaan Waterhouse bertambah lengkap karena keluarganya bisa menyaksikan penampilannya. โOrang tua saya tidak pernah pergi ke konser stadion dengan 92.000 orang. Jadi, bisa berbagi pengalaman pertunjukan Taylor bersama mereka adalah momen yang benar-benar ajaib,โ ujarnya.
Di Indonesia, kisah Taylor Swift juga relevan bagi para musisi dan penggemar. Banyak musisi Tanah Air yang terinspirasi oleh cara Swift mengelola kritik dan tekanan publik menjadi karya yang autentik. Sikap Swift yang mendukung sesama artis juga menjadi contoh bagi industri musik Indonesia yang masih bergulat dengan isu solidaritas dan kesempatan yang merata. Tak heran jika album-album Swift selalu dinanti dan laris di platform digital Indonesia.
Ke depan, publik akan terus mengamati bagaimana Swift melanjutkan perjalanan kariernya setelah The Eras Tour. Akankah ia kembali dengan album baru yang lahir dari pengalaman terbaru? Atau justru akan lebih fokus mengangkat musisi lain melalui label atau kolaborasi? Yang jelas, teladan yang ia tunjukkan telah meninggalkan jejak yang dalam, tidak hanya bagi Suki Waterhouse, tetapi juga bagi jutaan penggemar di seluruh dunia.



