Ronald LaPread, Bassis Commodores di Balik Lagu 'Brick House' dan 'Easy', Meninggal di Selandia Baru
Baca dalam 60 detik
- Ronald LaPread, bassis dan pendiri grup funk-soul Commodores, tutup usia pada 75 tahun akibat insiden medis mendadak di Auckland.
- Ia menjadi arsitek sukses lagu-lagu legendaris seperti 'Brick House', 'Easy', dan 'Three Times a Lady' yang mengantarkan penjualan 70 juta rekaman.
- Kepergiannya menyisakan warisan musik yang terus hidup lewat platform digital dan pengaruh Lionel Richie di industri hiburan.

Dunia musik kehilangan salah satu pilar funk dan soul era 1970-an. Ronald LaPread, bassis dan anggota pendiri grup Commodores, meninggal dunia pada usia 75 tahun setelah mengalami kondisi medis mendadak di Auckland, Selandia Baru, tempat ia menetap selama puluhan tahun.
Kabar duka ini diumumkan oleh putrinya, Soraya LaPread, melalui unggahan di Instagram pada Sabtu (30/5/2026). Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Media setempat, New Zealand Herald, melaporkan bahwa LaPread meninggal akibat insiden medis yang terjadi secara tiba-tiba.
LaPread bergabung dengan Commodores tak lama setelah grup tersebut dibentuk di Tuskegee Institute, Alabama, dari penggabungan dua kelompok mahasiswa, Mystics dan Jays. Bersama Lionel Richie, Thomas McClary, William King, dan lainnya, ia menjadi bagian penting dari kesuksesan besar Commodores setelah mereka menandatangani kontrak dengan Motown pada 1972. Grup ini awalnya dikenal sebagai pembuka tur Jackson 5 sebelum akhirnya bersinar sendiri.
Kontribusi LaPread pada permainan bass menjadi tulang punggung sejumlah lagu terbesar Commodores. Dari funk energik 'Brick House' hingga balada lembut 'Easy' dan 'Three Times a Lady', ia membantu menciptakan suara khas yang membuat grup ini menjadi salah satu ikon Motown. Lagu instrumental 'Machine Gun' bahkan menjadi anthem di acara olahraga Amerika Serikat dan muncul dalam film seperti Boogie Nights.
Era keemasan Commodores bertepatan dengan masa ketika Lionel Richie masih menjadi vokalis utama sebelum memulai karier solo yang gemilang. Richie, yang kini menjadi juri American Idol, terus menjaga warisan Commodores tetap hidup. Lagu-lagu seperti 'Easy' dan 'Three Times a Lady' masih sering diputar di platform streaming dan digunakan dalam berbagai film serta acara televisi, memperkenalkan musik mereka kepada generasi baru.
Bagi penggemar musik di Indonesia, Commodores bukanlah nama asing. Lagu-lagu mereka kerap menjadi teman setia di radio-radio era 80-an dan 90-an, serta sering di-cover oleh musisi lokal. Kepergian LaPread menjadi pengingat akan kekayaan musik funk dan soul yang pernah mewarnai industri hiburan tanah air.
Setelah meninggalkan Commodores pada 1986, LaPread memilih hidup tenang di Selandia Baru dan jarang tampil di publik. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Commodores maupun Lionel Richie mengenai kepergiannya.
Warisan LaPread akan terus bergema melalui alunan bass yang ia torehkan dalam setiap rekaman. Pertanyaannya kini, mampukah generasi musisi saat ini menghidupkan kembali semangat funk dan soul yang pernah ia bangun?



