Escape the Backrooms Resmi Mendarat di PS5 dan Xbox Series, Harga Mulai Rp200 Ribuan
Baca dalam 60 detik
- Game horor eksplorasi Escape the Backrooms kini tersedia untuk konsol generasi terbaru setelah sukses di PC.
- Dukungan kooperatif hingga empat pemain dan harga terjangkau menjadi daya tarik utama perilisan ini.
- Ketersediaan di konsol membuka pasar lebih luas, termasuk potensi pertumbuhan komunitas horor di Indonesia.

Setelah lebih dari tiga tahun memuaskan penggemar PC dalam akses awal dan peluncuran versi penuh pada Oktober lalu, Escape the Backrooms akhirnya merambah konsol rumahan. Gim bergenre eksplorasi dan horor ini kini bisa dimainkan di PlayStation 5 dan Xbox Series dengan harga 12,99 dolar AS atau sekitar Rp200 ribu.
Dikembangkan oleh tim independen, gim ini mengadaptasi fenomena internet backroomsโlabirin ruang kantor tak berujung yang mencekam. Pemain ditantang untuk mencari jalan keluar dari lingkungan yang terus berubah, ditemani oleh hingga tiga pemain lain dalam mode kooperatif. Kehadiran fitur co-op menjadi nilai tambah, mengingat genre horor seringkali lebih nikmat dimainkan bersama.
Perilisan di konsol menandai langkah strategis pengembang untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Selama ini, Escape the Backrooms hanya tersedia di PC melalui Early Access sejak Agustus 2022, dan baru mencapai versi 1.0 pada Oktober 2025. Dengan basis pemain yang sudah terbangun di PC, kehadiran di PS5 dan Xbox Series diprediksi akan mendongkrak popularitas gim ini secara signifikan.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran gim ini di konsol membuka akses lebih mudah bagi para penggemar horor yang tidak memiliki PC gaming. Tren gim horor kooperatif seperti Escape the Backrooms cukup populer di kalangan pemain Tanah Air, terbukti dari ramainya diskusi di forum-forum lokal. Dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan gim AAA, judul ini berpotensi menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari sensasi horor ringan namun menegangkan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Persaingan di genre horor konsol cukup ketat, dengan hadirnya judul-judul besar seperti Resident Evil dan Silent Hill. Namun, pendekatan unik Escape the Backrooms yang mengandalkan eksplorasi dan atmosfer mencekam, bukan aksi tembak-menembak, bisa menjadi pembeda yang menarik segmen pemain tertentu.
Ke depannya, pengembang perlu menjaga momentum dengan merilis konten tambahan atau pembaruan reguler agar pemain tetap bertahan. Pertanyaan besarnya: akankah Escape the Backrooms mampu menembus pasar konsol dan menjadi fenomena horor berikutnya, atau hanya akan menjadi pelengkap di antara deretan gim sejenis? Waktu yang akan menjawab.



