Malaysia Darurat Rudal: Tanpa Pasokan Norwegia, Armada Laut China Selatan Terancam
Baca dalam 60 detik
- Malaysia kehilangan kontrak rudal Norwegia untuk kapal tempur pesisir baru, memaksa pencarian pemasok alternatif dari tiga hingga empat negara.
- Keterlambatan proyek LCS selama lebih dari satu dekade membuat Angkatan Laut Malaysia tertinggal dalam menjaga klaim di Laut China Selatan.
- Keputusan pengadaan rudal baru akan berdampak pada keseimbangan kekuatan regional, termasuk bagi Indonesia yang memiliki perbatasan maritim dengan Malaysia.

Keputusan Norwegia membatalkan pengiriman rudal untuk kapal tempur pesisir Malaysia membuat angkatan laut negara itu terombang-ambing di tengah ketegangan Laut China Selatan. Setelah menunggu lebih dari sepuluh tahun, proyek Littoral Combat Ship (LCS) yang menjadi tulang punggung modernisasi armada kini kehilangan komponen vitalnya, memaksa Kuala Lumpur berburu pemasok baru dari sejumlah negara.
Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamed Khaled Nordin, mengungkapkan bahwa saat ini ada tiga hingga empat negara yang telah mengajukan penawaran untuk menggantikan rudal Norwegia. Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Turki, di mana ia mengadakan pertemuan dengan pejabat militer dan perwakilan industri pertahanan. โKami mengadakan pertemuan, terutama dengan angkatan laut, untuk mencari solusi. Angkatan laut akan melakukan evaluasi terhadap keempat tawaran ini sebelum dibawa ke pemerintah,โ ujar Khaled kepada kantor berita Bernama.
Prioritas utama, menurut Khaled, adalah menemukan sistem rudal yang tidak memerlukan desain ulang kapal yang sudah dalam tahap konstruksi. Langkah ini penting untuk menghindari penundaan lebih lanjut dan pembengkakan biaya yang sudah membebani proyek LCS. Proyek yang dimulai pada 2011 ini sempat terhenti akibat masalah pendanaan dan perubahan spesifikasi, sehingga baru satu dari enam kapal yang direncanakan selesai dibangun.
Analis pertahanan menilai bahwa rudal antikapal yang canggih menjadi krusial bagi Angkatan Laut Malaysia untuk menjaga kedaulatan di Laut China Selatan. Wilayah perairan yang kaya sumber daya alam dan jalur pelayaran strategis itu kerap menjadi titik gesekan dengan China, Vietnam, dan negara tetangga lainnya. Tanpa rudal yang memadai, kapal-kapal LCS hanya akan menjadi sasaran empuk bagi lawan yang lebih lengkap persenjataannya.
Konteks Indonesia: Pengadaan rudal Malaysia ini patut dicermati karena Indonesia berbagi perbatasan maritim dengan Malaysia di Selat Malaka dan Laut Sulawesi. Jika Malaysia akhirnya memilih sistem rudal dari negara tertentu, hal itu bisa mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Indonesia sendiri tengah memodernisasi armada tempurnya, termasuk pengadaan fregat dan rudal dari Italia serta Denmark. Persaingan alutsista di Asia Tenggara kian ketat seiring meningkatnya klaim maritim China.
Ke depan, keputusan Malaysia akan menjadi indikator arah kebijakan pertahanan negara itu. Apakah akan condong ke mitra tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa, atau justru beralih ke pemasok baru seperti Turki, China, atau Korea Selatan? Pilihan ini tidak hanya soal teknis persenjataan, tetapi juga menyangkut aliansi strategis di kawasan Indo-Pasifik yang semakin panas.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7332618/original/047745000_1780117202-prabos-halim.jpg)

