Lubang Raksasa 16 Meter Menganga di Lenteng Agung: Got Tua yang Tak Kuat Menahan Beban Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Jalan Raya Lenteng Agung ambles pada Kamis malam, membentuk lubang sepanjang 16 meter yang diduga dipicu kerusakan saluran air tua di bawahnya.
- Insiden ini menyebabkan kemacetan parah dan dua kendaraan terperosok, memicu investigasi gabungan Dinas Bina Marga dan SDA Jakarta Selatan.
- Perbaikan permanen baru dimulai Jumat malam, sementara pengguna jalan diimbau waspada dan mencari jalur alternatif.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253855/original/001124500_1780039906-3.jpg)
Lubang raksasa sepanjang 16 meter tiba-tiba menganga di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Kamis malam, 28 Mei 2026, memicu kemacetan parah dan kekhawatiran publik atas kondisi infrastruktur bawah tanah yang rentan. Titik ambles tepat berada di jalur kendaraan arah Depok, jalur utama yang menghubungkan Jakarta dengan kota satelit di selatan.
Peristiwa ini bukan sekadar lubang biasa. Seorang pengendara motor terperosok ke dalamnya, dan sebuah truk milik Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan yang tengah mengangkut puing ikut menjadi korban. Rekaman CCTV yang viral memperlihatkan detik-detik kecelakaan tersebut. Beruntung, tidak ada korban jiwa, namun insiden ini menyoroti kerapuhan infrastruktur bawah permukaan yang selama ini luput dari perhatian.
Hasil penelusuran awal mengungkap fakta mengejutkan: penyebab utama amblesnya jalan adalah saluran air atau got tua di bawah ruas jalan yang sudah rapuh. Struktur drainase yang dibangun puluhan tahun lalu itu tak lagi mampu menahan beban kendaraan yang melintas di atasnya. "Setelah ambles baru ketahuan, ternyata hongnya rapuh," ujar Kasatpel SDA Kecamatan Jagakarsa, Sartono, Jumat (29/5).
Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Selatan, Santo, menambahkan bahwa saluran tersebut merupakan infrastruktur lama yang kondisinya memburuk akibat musim hujan. "Saluran tersebut merupakan infrastruktur lama yang mengalami penurunan kondisi konstruksi akibat musim hujan," katanya. Pihaknya telah memasang plat baja sementara untuk mengamankan lokasi, sementara perbaikan permanen baru akan dimulai pada Jumat malam untuk meminimalkan dampak lalu lintas.
Kronologi kejadian menunjukkan bahwa tanda-tanda awal sebenarnya sudah terlihat. Pada Rabu malam, warga dan petugas PPSU melaporkan jalan bergelombang ke Dinas Bina Marga. Tim Bina Marga sempat melakukan perataan aspal dan memasang rambu, namun upaya itu sia-sia. "Harapannya setelah ditambal dan dikasih rambu, aman. Tapi ini akses satu-satunya. Walaupun sudah ada rambu, ada yang sedikit ditabrak. Akhirnya malamnya kejadian," ungkap Sartono.
Insiden ini menjadi pengingat bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan pentingnya pemeliharaan infrastruktur bawah tanah, terutama saluran air yang menjadi tulang punggung drainase kota. Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, mengakui bahwa setelah pengecekan, struktur di bawah jalan sudah dalam kondisi kopong dan membutuhkan penanganan serius. "Dari hasil pemantauan tim di lapangan diketahui bahwa kondisi di bawah jalan memang sudah kopong sehingga perlu penanganan serius oleh pihak SDA," ujarnya.
Bagi pengguna jalan, khususnya yang setiap hari melintasi Lenteng Agung, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar: berapa banyak lagi titik rawan serupa yang mengintai di bawah aspal Jakarta? Dengan curah hujan yang masih tinggi, risiko ambles susulan bukanlah hal yang mustahil. Pemerintah pun dihadapkan pada tantangan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap saluran air tua di seluruh wilayah Jakarta, sebelum bencana serupa terulang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7612616/original/026915700_1780398169-1000596458__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938374/original/017867600_1645165607-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-5.jpg)