Inter Tebus Aleksandar Stankovic: Investasi Masa Depan di Bawah €23 Juta
Baca dalam 60 detik
- Aleksandar Stankovic, putra legenda Inter Dejan Stankovic, telah menjalani tes medis di Milan sebagai langkah awal pembelian kembali dari Club Brugge.
- Inter mengaktifkan klausul pembelian kembali senilai €23 juta, jauh di bawah harga pasar setelah performa gemilang sang pemain di Belgia.
- Kepulangan Stankovic memperkuat lini tengah Inter dengan biaya efektif hanya €14 juta, mengingat keuntungan dari penjualan sebelumnya.

Inter Milan kembali memanfaatkan strategi bisnis cerdas di bursa transfer dengan menebus Aleksandar Stankovic, gelandang muda berbakat yang musim lalu bersinar di Club Brugge. Pemain berusia 20 tahun itu dikabarkan telah menjalani tes medis di markas Inter pada hari ini, menandai langkah awal kepulangannya ke Giuseppe Meazza dengan nilai transfer mencapai €23 juta.
Stankovic, yang merupakan putra dari legenda Inter Dejan Stankovic, memulai karier di akademi Nerazzurri bersama saudaranya Filip. Setelah masa peminjaman di FC Luzern (Swiss), ia dijual ke Club Brugge pada musim panas lalu dengan harga €9,5 juta. Namun, Inter menyisipkan klausul pembelian kembali yang rendah, yakin bahwa pemain ini akan berkembang pesat di Belgia. Keyakinan itu terbukti tepat: Stankovic menjadi pilar utama dalam keberhasilan Club Brugge meraih gelar liga, dengan catatan 55 penampilan kompetitif, sembilan gol, dan lima assist.
Keputusan Inter mengaktifkan klausul pembelian kembali pada musim panas ini—senilai €23 juta—menunjukkan keseriusan klub dalam membangun skuad jangka panjang. Jika menunggu hingga Juni 2027, harga klausul akan naik menjadi €26 juta. Dengan demikian, Inter hanya mengeluarkan biaya efektif sekitar €14 juta setelah memperhitungkan keuntungan dari penjualan awal. Langkah ini dinilai sebagai investasi cerdas mengingat potensi besar Stankovic yang masih bisa terus berkembang.
Bagi sepak bola Indonesia, langkah Inter ini menjadi contoh bagaimana klub besar memanfaatkan klausul pembelian kembali untuk mengamankan talenta muda tanpa risiko finansial besar. Di tengah maraknya pembelian pemain mahal, strategi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub Liga 1 yang mulai melirik pemain diaspora atau binaan akademi. Keberhasilan Stankovic juga menegaskan pentingnya memberikan kesempatan bermain reguler di liga kompetitif seperti Belgia untuk mengasah kemampuan sebelum kembali ke level tertinggi.
Menurut analis pasar transfer, keputusan Inter memboyong Stankovic kembali juga dipengaruhi oleh kebutuhan akan pemain serbabisa di lini tengah. Dengan kemampuan bermain sebagai gelandang bertahan maupun box-to-box, Stankovic diharapkan bisa menjadi opsi segar di bawah asuhan pelatih Cristian Chivu. Meski persaingan di skuad utama Inter ketat, pengalaman Stankovic di Eropa dan darah sepak bola dari sang ayah menjadi modal berharga.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Stankovic mampu langsung bersaing di starting XI Inter atau akan kembali dipinjamkan untuk menit bermain. Namun, dengan nilai investasi yang relatif rendah dan potensi jual kembali yang tinggi, langkah ini tampaknya menjadi win-win solution bagi kedua belah pihak. Akankah strategi serupa mulai dilirik oleh klub-klub Asia, termasuk Indonesia, dalam mengelola aset pemain muda?



