IHSG Terkoreksi 1,23% ke 6.130 Jelang Libur Panjang, Sektor Primer dan Finansial Paling Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,23% ke level 6.130,19 pada perdagangan Selasa (26/5/2026), melanjutkan volatilitas jelang libur panjang Idul Adha.
- Tekanan utama berasal dari saham blue chip seperti ASII, BBRI, dan BBCA yang berkontribusi besar terhadap pelemahan indeks, dengan tiga sektor paling terpukul adalah konsumer primer, properti, dan finansial.
- Sentimen global turut mempengaruhi, di mana optimisme negosiasi AS-Iran mendorong penurunan harga minyak hingga 7%, namun ketidakpastian kesepakatan masih membayangi pasar Asia yang bergerak variatif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa (26/5/2026), ditutup turun 76,16 poin atau 1,23% ke posisi 6.130,19. Pelemahan ini terjadi di tengah antisipasi pelaku pasar terhadap libur panjang Idul Adha yang membuat bursa tutup pada Rabu dan Kamis, serta diwarnai sentimen global dari perkembangan negosiasi AS-Iran dan pergerakan harga minyak dunia.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dengan rentang intraday antara 6.124,79 hingga 6.286,87. Volume transaksi tercatat cukup deras, dengan nilai mencapai Rp 18,1 triliun dari 24,88 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,96 juta kali transaksi. Dari total saham yang ditransaksikan, sebanyak 241 saham berhasil menguat, sementara 447 saham mengalami pelemahan, dan 133 saham stagnan. Mayoritas sektor berada di zona merah, dengan koreksi terdalam terjadi pada sektor konsumer primer, properti, dan finansial.
Di sisi makro, pasar keuangan Indonesia saat ini dibayangi oleh sikap wait and see investor menjelang libur panjang Idul Adha. Bursa akan tutup pada Rabu dan Kamis, sehingga pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur risiko. Sementara itu, dari kancah global, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Doha mulai menunjukkan titik terang. Pembahasan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu nuklir Iran, meskipun kedua pihak masih skeptis kesepakatan dapat segera tercapai. Optimisme pasar terhadap potensi gencatan senjata mendorong harga minyak mentah turun tajam: Brent melemah 7% ke US$96,14 per barel, sementara WTI turun lebih dari 6% ke US$90,30 per barel.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan berjalan baik, namun tetap mengancam akan kembali menyerang jika negosiasi gagal, menambah ketidakpastian. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan diplomasi masih menjadi prioritas. Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah masih berlanjut dengan Israel yang meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon, dan Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di Teluk Persia. Situasi ini sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Bursa Asia bergerak variatif merespons perkembangan tersebut. Indeks Korea Selatan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.094,90, didorong optimisme investor. Indeks Kosdaq juga menguat 2,12%. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 0,18% setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis 65.000, sementara Topix melemah 0,36% akibat aksi ambil untung. S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,17%, dan futures Hang Seng Hong Kong juga bergerak lebih rendah.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada hasil negosiasi AS-Iran dan stabilitas harga minyak. Libur panjang domestik diperkirakan akan membuat volume perdagangan kembali rendah saat bursa dibuka pada Jumat, sehingga volatilitas masih berpotensi terjadi. Investor disarankan mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi global sebagai acuan pengambilan keputusan.



