Mismatch Tenaga Kerja: Menutup Prodi Bukan Solusi, Industrialisasi yang Mandek Jadi Biang Masalah
Baca dalam 60 detik
- Pakar menilai fenomena mismatch antara lulusan perguruan tinggi dan pasar kerja lebih disebabkan oleh minimnya lapangan kerja formal berkualitas, bukan semata ketidaksesuaian kurikulum.
- Data Sakernas menunjukkan tingkat pengangguran tertinggi justru terjadi pada lulusan diploma dan sarjana muda, sementara 60% angkatan kerja masih terserap di sektor informal.
- Wacana penutupan program studi dinilai berisiko menimbulkan kekurangan tenaga kerja di masa depan, sehingga solusi harus bersifat struktural dengan memperkuat industrialisasi dan program magang.

Di tengah optimisme menuju Indonesia Emas 2045, realitas pasar kerja nasional justru menunjukkan ironi. Semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang bekerja di luar bidang studi, bahkan terjebak di sektor informal dan pekerjaan rentan berbasis platform digital. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merespons dengan rencana mengevaluasi hingga menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Namun, para pakar menilai langkah tersebut tidak akan efektif tanpa pembenahan struktural di sektor ketenagakerjaan.
Pengamat ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjudin Nur Effendi, menyoroti bahwa persoalan mismatch bukan semata-mata kesalahan dunia pendidikan. Menurutnya, akar masalah terletak pada belum optimalnya sektor industri nasional dalam menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas. “Yang paling menonjol di Indonesia adalah over-education. Berdasarkan data Sakernas, tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari lulusan diploma, sarjana muda, dan sekolah menengah,” ujarnya dalam wawancara dengan Tirto.
Fenomena baru yang mengkhawatirkan adalah munculnya educated precariat atau pekerja prekariat terdidik. Mereka bekerja dengan mengandalkan platform digital seperti ojek online, tanpa jaminan stabilitas dan perlindungan sosial. Tadjudin menekankan bahwa sektor informal dan prekariat kini mendominasi, sementara industri padat karya yang menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah masih menjadi andalan. Akibatnya, lulusan pendidikan tinggi sulit terserap secara optimal.
• 60% angkatan kerja Indonesia berada di sektor informal, hanya 40% di sektor formal.
• Indeks performa manufaktur Indonesia rata-rata 18–19, di bawah ambang ideal 20, menandakan deindustrialisasi.
• Pengangguran tertinggi berasal dari lulusan diploma dan sarjana muda (Sakernas).
Lebih lanjut, Tadjudin mengkritik wacana penutupan program studi. Ia mencontohkan transformasi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas umum yang justru menurunkan kualitas pengajaran karena guru kehilangan fondasi pedagogi. “Penutupan prodi harus hati-hati. Jika jurusan manajemen ditutup, Indonesia bisa kekurangan tenaga manajerial di masa depan,” tegasnya. Menurutnya, mismatch tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pendidikan, melainkan juga akibat deindustrialisasi dan preferensi perusahaan yang beralih ke otomasi dan AI untuk menekan biaya.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga menjadi tekanan tambahan bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Ketika biaya produksi naik, perusahaan cenderung mengurangi tenaga kerja atau menekan upah, memicu gelombang PHK. Tadjudin menilai bahwa tanpa lapangan kerja berkualitas di sektor industri dan inovasi, Indonesia akan sulit berkembang. Negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan berhasil memanfaatkan bonus demografi, namun Indonesia berisiko gagal jika tidak segera menyiapkan tenaga kerja dan lapangan kerja yang memadai.
Sebagai penutup, Tadjudin menekankan bahwa solusi utama bukanlah menutup program studi, melainkan memperkuat program magang dan pelatihan keterampilan yang benar-benar sesuai kebutuhan pasar. “Pekerjaan yang paling menjamin keberlanjutan tetap berasal dari sektor industri formal. Namun, kondisi itu belum berjalan sesuai harapan,” pungkasnya. Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada aspek pendidikan, tetapi juga mendorong industrialisasi dan menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183244/original/002499300_1779979290-73e29194-e437-4c19-b7f9-036854c92468.jpg)


