Prabowo ke Macron: Energi, Pertahanan, dan Bahasa Prancis di Meja Perundingan
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron membahas kemitraan strategis komprehensif di Paris, mencakup pertahanan, energi bersih, dan pendidikan.
- Prabowo menginstruksikan pembelajaran bahasa Prancis di semua jenjang sekolah Indonesia sebagai langkah antisipasi global.
- Pembentukan France-Indonesia High Level Business Council diharapkan mendongkrak investasi Prancis di Indonesia dan memperkuat peran Prancis di Asia Tenggara.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183244/original/002499300_1779979290-73e29194-e437-4c19-b7f9-036854c92468.jpg)
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu di Istana Elysee, Paris, pada Kamis (28/5/2026) untuk membahas sejumlah agenda strategis yang mencakup pertahanan, energi bersih, pendidikan, riset, serta percepatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA). Pertemuan ini menjadi sinyal penguatan hubungan bilateral di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.
Dalam sambutannya, Prabowo menekankan bahwa kunjungannya membawa misi konkret untuk memperdalam kerja sama yang sudah berjalan. "Kita akan membahas isu-isu penting: pertahanan, energi bersih, pendidikan, riset, dan pelaksanaan IEU-CEPA," ujarnya. Ia juga mengungkapkan optimisme bahwa kemitraan strategis komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership) antara kedua negara akan semakin terwujud dalam waktu dekat.
Salah satu poin yang menonjol adalah instruksi Prabowo agar semua jenjang pendidikan di Indonesia mulai mempelajari bahasa Prancis. "Saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," tegasnya. Langkah ini dinilai sebagai upaya membekali generasi muda Indonesia dengan keterampilan linguistik yang relevan di era global, sekaligus mempererat hubungan kultural dengan Prancis.
Prabowo juga menyambut baik pembentukan France-Indonesia High Level Business Council, yang diyakini akan memperkuat arus investasi Prancis ke Indonesia. "Saya sangat gembira dengan partisipasi perusahaan-perusahaan Prancis di ekonomi Indonesia," katanya. Saat ini, hubungan kedua negara sudah berkembang positif di bidang pertahanan, sains, dan teknologi, dan pertemuan ini diharapkan mempercepat realisasi proyek-proyek strategis.
Dari sisi geopolitik, Prabowo menekankan pentingnya peran Prancis sebagai pemimpin Eropa di Asia Tenggara. "Prancis akan terus memainkan peranan yang sangat penting di kawasan Asia Tenggara," ujarnya. Pernyataan ini relevan mengingat Indonesia saat ini menjadi poros maritim global dan anggota ASEAN yang aktif menjalin kemitraan dengan kekuatan Eropa.
Bagi Indonesia, hasil pertemuan ini membawa implikasi langsung. Percepatan IEU-CEPA dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia ke Uni Eropa, sementara kerja sama energi bersih mendukung target netralitas karbon 2060. Di sisi lain, investasi Prancis di sektor pertahanan dan teknologi dapat memperkuat industri strategis nasional. Namun, efektivitas semua agenda ini masih bergantung pada implementasi di tingkat teknis dan komitmen politik kedua negara ke depan.
Pertemuan ini menjadi langkah awal yang menjanjikan, namun publik menanti realisasi konkret dari setiap poin yang dibahas. Apakah kemitraan strategis ini akan benar-benar membawa dampak terukur bagi Indonesia, atau hanya sebatas wacana diplomatik? Waktu yang akan menjawab.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7473748/original/075472300_1780246716-IMG-20260531-WA0007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2948819/original/006189000_1571911531-20191024-Sertijab_Menhan-Faizal_Fanani_7.jpg)