Mengupas Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Radang Usus (IBD)
Baca dalam 60 detik
- IBD adalah penyakit autoimun kronis yang berbeda dari IBS, dengan gejala seperti diare berdarah, nyeri perut, dan penurunan berat badan.
- Kemajuan terapi biologis dan molekul kecil telah menekan angka operasi, namun penghentian obat tanpa pengawasan medis sangat tidak dianjurkan.
- Penderita IBD tetap bisa menjalani kehidupan normal, termasuk kehamilan yang aman, selama penyakit terkontrol dengan pengobatan yang tepat.

Penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD) merupakan kondisi kronis yang menyerang sistem gastrointestinal, ditandai dengan peradangan berkepanjangan pada saluran pencernaan. Di Amerika Serikat, sekitar 3 juta jiwa tercatat mengidap IBD pada 2015, sementara secara global angka tersebut mencapai 6,8 juta pada 2017. Dua bentuk utama IBD adalah penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, keduanya memicu gejala seperti kram perut, kembung, sembelit, dan diare yang bisa berlangsung berhari-hari hingga berbulan-bulan.
Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah menyamakan IBD dengan sindrom iritasi usus besar (IBS). Dr. Abhik Bhattacharya, asisten profesor gastroenterologi di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, menegaskan bahwa IBS merupakan gangguan interaksi antara usus dan otak yang dipicu stres, sedangkan IBD adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang saluran cerna sendiri. "IBD dapat menyebabkan stres, memperburuk kecemasan, depresi, dan gangguan tidur karena dampaknya yang menghancurkan fungsi sehari-hari," jelasnya. Gejala IBD meliputi pendarahan pada tinja, diare, nyeri perut hebat, penurunan berat badan tak disengaja, demam, dan kelelahan.
Banyak mitos beredar bahwa penderita IBD tidak bisa hidup normal. Faktanya, dengan penanganan medis yang tepat—termasuk obat biologis seperti infliximab, adalimumab, dan vedolizumab, serta molekul kecil seperti ozanimod dan tofacitinib—kualitas hidup pasien dapat setara dengan individu sehat. Dr. Bhattacharya mencontohkan tokoh seperti Presiden Eisenhower dan John F. Kennedy yang tetap produktif meski mengidap IBD. Operasi kini hanya diperlukan pada kasus tertentu, dan tingkat keberhasilannya terus membaik.
Kehamilan juga bukan halangan. "Sebagian besar obat IBD aman digunakan selama kehamilan," kata Dr. Bhattacharya. Yang terpenting adalah menjaga remisi penyakit, karena kekambuhan justru lebih berbahaya bagi ibu dan janin. Pengecualian diberikan untuk metotreksat yang harus dihentikan sebelum merencanakan kehamilan. Pasien juga dianjurkan untuk tidak menghentikan pengobatan meski gejala mereda, karena risiko kambuh dan resistensi obat sangat nyata.
"Kami terus mengumpulkan data keamanan obat selama kehamilan. Tujuan utama adalah menjaga penyakit tetap tenang, karena dampak terburuk bagi ibu dan bayi adalah penyakit yang aktif." — Dr. Abhik Bhattacharya
Perlu dipahami bahwa diet bebas gluten tidak bermanfaat bagi penderita IBD, kecuali mereka juga memiliki penyakit celiac. Selain itu, IBD tidak hanya menyerang usus; manifestasi ekstraintestinal dapat melibatkan kulit, mata, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem hepatopankreatobilier. Hingga saat ini, belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan IBD, namun riset terus berlanjut. "Ini adalah pekerjaan yang sedang berjalan," ujar Dr. Bhattacharya optimistis.
Kesimpulannya, IBD bukanlah vonis yang membatasi hidup. Dengan diagnosis dini, terapi yang tepat, dan kepatuhan berobat, pasien dapat menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna. Mitos-mitos lama perlu diluruskan agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam stigma yang keliru.



