Dilema Tuchel: Palmer dan Foden Tersingkir dari Skuad Piala Dunia karena Performa Menurun
Baca dalam 60 detik
- Cole Palmer dan Phil Foden diprediksi tidak masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 akibat penurunan performa signifikan.
- Thomas Tuchel lebih mengutamakan pemain yang tampil konsisten, seperti Eberechi Eze, ketimbang mengandalkan reputasi masa lalu.
- Keputusan ini menandai pergeseran besar dalam seleksi timnas Inggris, di mana dua bintang muda yang sempat dianggap masa depan kini harus rela tersingkir.

Dunia sepak bola kerap berubah dalam sekejap. Dua tahun lalu, gagasan bahwa Cole Palmer dan Phil Foden tidak akan masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia terasa mustahil. Keduanya adalah bintang muda yang dianggap sebagai fondasi masa depan The Three Lions. Namun, keputusan pelatih Thomas Tuchel untuk mengesampingkan mereka menunjukkan betapa cepatnya dinamika persaingan di level tertinggi.
Palmer dan Foden sama-sama lulusan akademi Manchester City, dengan perbedaan usia satu tahun. Foden, yang diasuh Pep Guardiola, menjadi andalan di lini tengah serang, sementara Palmer harus hengkang ke Chelsea untuk menemukan tempatnya. Di Euro 2024, Foden menjadi starter di final, dan Palmer mencetak gol penyeimbang saat masuk sebagai pemain pengganti. Palmer kemudian dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Inggris dan Pemain Muda Terbaik PFA, sementara Foden meraih penghargaan senior PFA. Masa depan mereka tampak cerah.
Namun, performa keduanya menurun drastis musim ini. Palmer, yang mencetak 37 gol Premier League dalam dua musim pertamanya di Chelsea, hanya mampu mengemas sembilan gol dalam 25 penampilan musim ini. Kilatan brilliance yang dulu menjadi ciri khasnya mulai memudar. Foden mengalami nasib serupa, bahkan dalam periode yang lebih panjang. Setelah mencetak enam gol dalam lima pertandingan menjelang Natal, ia gagal mencetak gol lagi. Musim lalu ia mengoleksi 19 gol di Premier League, tetapi musim ini ia kesulitan menemukan ritme permainan.
Tuchel, yang dikenal tegas dalam seleksi, tidak ragu meninggalkan pemain berdasarkan reputasi. Momen krusial terjadi pada laga uji coba melawan Uruguay pada Maret, ketika Foden diberi kesempatan bermain sebagai gelandang serang menggantikan Harry Kane. Ia tampil tanpa pengaruh, sering turun ke lini tengah untuk mencari bola, dan akhirnya diganti pada menit ke-56 oleh Palmer. Eksperimen itu gagal, dan Tuchel tampaknya telah mengambil kesimpulan.
Pelatih asal Jerman itu lebih memilih pemain yang tampil konsisten, seperti Eberechi Eze dari Arsenal. Meskipun statistik Eze di Premier League tidak mencolok (7 gol dan 2 assist), ia mencetak tiga gol dalam enam laga kualifikasi Piala Dunia untuk Tuchel. Eze juga dianggap mampu memberikan kecepatan dan ketidakpastian yang dibutuhkan tim. Sementara itu, Morgan Rogers dari Aston Villa telah mendapatkan kepercayaan Tuchel, dan Jude Bellingham tetap menjadi pilihan utama meskipun sempat diragukan.
Keputusan ini menegaskan bahwa Tuchel tidak segan meninggalkan pemain bintang jika performa mereka menurun. Palmer dan Foden, yang sempat diprediksi menjadi starter tetap, kini harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak dianggap cukup baik, setidaknya berdasarkan performa saat ini. Persaingan di posisi nomor 10 sangat ketat, dan Tuchel memilih pemain yang sedang dalam performa terbaik.
Ke depan, Palmer dan Foden harus bekerja keras untuk mengembalikan performa terbaik mereka jika ingin kembali ke skuad Inggris. Sementara itu, Tuchel telah menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang aman di timnas, dan setiap pemain harus terus membuktikan diri. Keputusan ini mungkin kontroversial, tetapi mencerminkan pendekatan pragmatis yang mungkin diperlukan Inggris untuk meraih sukses di Piala Dunia mendatang.



