PSG Rebut Gelar Ligue 1 ke-14: Musim Terberat di Era Luis Enrique, Hajar Lens di Kandang Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Dominasi berlanjut: Paris Saint-Germain mengamankan trofi Ligue 1 kelima secara beruntun dan ke-14 sepanjang sejarah setelah menundukkan pesaing terdekat Lens dengan skor 2-0 di Stade Bollaert-Delelis.
- Pengakuan pelatih: Luis Enrique menyebut musim ini sebagai yang "paling manis sekaligus paling sulit" selama tiga tahun kepemimpinannya, memuji ketangguhan Lens yang terus memberi tekanan hingga pekan terakhir.
- Double crown di depan mata: Dua laga besar masih menanti: final Liga Champions kontra Arsenal (30 Mei) untuk mempertahankan mahkota Eropa, ditambah laga pamungkas liga melawan Paris FC.

LENS, PRANCIS — Paris Saint-Germain memastikan gelar juara Ligue 1 untuk ke-14 kalinya dalam sejarah klub sekaligus merengkuh mahkota kelima secara beruntun, usai membungkam tuan rumah Lens 2-0 pada pertandingan krusial yang digelar Kamis malam (14/5/2026). Dengan keunggulan enam poin atas Lens yang menjadi pesaing terdekat, PSG hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengunci titel, namun dua gol dari Khvicha Kvaratskhelia dan pemain pengganti Ibrahim Mbaye memastikan pesta juara terjadi satu pekan sebelum musim berakhir.
Mengapa Musim Ini Disebut yang Terberat?
Pernyataan Luis Enrique bahwa musim 2025-2026 adalah yang "paling sulit tanpa keraguan" dalam tiga tahun kepelatihannya di PSG bukan sekadar basa-basi. Di balik dominasi akhir musim, Lens menyajikan perlawanan paling sengit dalam setengah dekade terakhir—memenangi laga-laga krusial secara beruntun dan memaksa PSG untuk terus mempertahankan konsistensi hingga pekan-pekan akhir. Dibandingkan musim-musim sebelumnya di mana Paris sering melesat sendirian di puncak klasemen, edisi ini menuntut ketahanan mental dan fisik yang lebih tinggi, terutama dengan jadwal padat yang juga menyisipkan babak gugur Liga Champions.
Dari sisi statistik, raihan 14 gelar ini mengukuhkan PSG sebagai penguasa mutlak Ligue 1 sepanjang masa, meninggalkan Saint-Etienne di posisi kedua dengan 10 trofi. Lebih impresif lagi, Paris kini telah menjadi juara dalam 12 dari 14 musim terakhir—sebuah periode dominasi yang nyaris tak tertandingi di lima liga top Eropa, kecuali Bayern Munich di Bundesliga. Namun, manajer asal Spanyol itu dengan sportif mengakui kualitas Lens, menyebut mereka sebagai "kuda hitam" yang mampu memenangi laga-laga beruntun dan membuat perburuan gelar kali ini terasa sangat "tricky".
🏆 REKOR JUARA LIGUE 1
PSG: 14 gelar (12 dari 14 musim terakhir)
Saint-Etienne: 10 gelar
Lima musim beruntun: 2022, 2023, 2024, 2025, 2026
Sisa laga liga: vs Paris FC (tandang, 17 Mei)
Jadwal Panas: dari Partai Rival Sekota hingga Final Eropa
Gelar Ligue 1 ini sekaligus menjadi pemanasan bagi dua laga besar yang menanti PSG. Pertama, perjalanan ke markas rival sekota Paris FC pada laga pamungkas akhir pekan ini—laga yang meski tidak mempengaruhi klasemen juara, tetap sarat gengsi ibu kota. Yang jauh lebih krusial adalah final Liga Champions di Munich pada 30 Mei melawan pemuncak klasemen Premier League, Arsenal. Sebagai juara bertahan Eropa, PSG berambisi mempertahankan mahkota yang mereka raih musim lalu—sebuah prestasi yang belum pernah dicapai klub Prancis mana pun dalam format Liga Champions modern. Sementara itu, Lens yang gagal merebut titel liga masih memiliki kesempatan meraih trofi lain saat mereka menghadapi Nice di final Coupe de France pada 22 Mei.
Proyeksi: Apakah Double Treble Terwujud?
Ke depan, fokus PSG sepenuhnya tertuju pada partai final di Allianz Arena. Kemenangan atas Arsenal akan mengukuhkan status Luis Enrique sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah klub, sekaligus menjadikan PSG sebagai tim pertama sejak Real Madrid (2016-2018) yang berhasil mempertahankan gelar Liga Champions dalam dua musim beruntun. Namun, tantangan tidak ringan: The Gunners di bawah Mikel Arteta tampil impresif sepanjang musim dan telah mengamankan posisi puncak Premier League. Apakah PSG mampu mengulang keajaiban musim lalu—atau tekanan menjalani final sebagai juara bertahan justru menjadi bumerang? Satu yang pasti: dengan Kvaratskhelia yang kembali mencetak gol krusial dan skuad yang semakin matang, Enrique memiliki amunisi lengkap untuk menutup musim dengan double glory. Bagi investor dan pengamat industri sepak bola, performa PSG di final ini akan menjadi barometer apakah proyek galacticos versi Paris benar-benar berkelanjutan atau hanya sensasi sesaat.
"Ini adalah gelar yang paling manis sekaligus paling sulit untuk diraih—tanpa keraguan, ini yang paling berat dari tiga tahun kami di sini. Tapi itu juga karena Lens melakukan pekerjaan yang sangat baik." — Luis Enrique, Manajer PSG.



