Guncang Kabinet Trump: Kepala Kontraterorisme AS Joe Kent Mundur, Tuding Israel Dalang Perang Iran
Baca dalam 60 detik
- Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC) AS, Joe Kent, mengundurkan diri pada 17 Maret 2026 sebagai bentuk protes terhadap perang antara AS dan Iran.
- Melalui surat pengunduran dirinya, Kent secara terbuka menyalahkan lobi Israel di AS dan kampanye misinformasi sebagai dalang yang menyeret pemerintahan Trump ke dalam konflik tersebut, seraya menyatakan bahwa Iran bukanlah ancaman langsung.
- Presiden Donald Trump merespons dengan dingin, menyebut Kent sebagai figur yang "lemah dalam keamanan" dan merasa lega ia keluar karena pandangannya yang menganggap Iran bukan sebagai ancaman.

Guncangan besar melanda lingkaran keamanan nasional pemerintahan Presiden Donald Trump. Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC) Amerika Serikat, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa (17/3/2026). Dalam surat pengunduran dirinya yang tajam, Kent memprotes keras perang yang sedang berlangsung dengan Iran dan menuding lobi Israel sebagai dalang di balik eskalasi konflik tersebut.
Pengunduran diri ini tercatat sebagai salah satu kecaman publik paling keras terhadap Israel yang pernah dilakukan oleh seorang pejabat aktif tinggi dalam sejarah pemerintahan AS. Kent, seorang mantan prajurit Pasukan Khusus (Green Beret) yang bekerja di bawah Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, menyatakan secara terbuka bahwa Iran sebenarnya tidak memberikan ancaman langsung terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Dalam surat yang diunggahnya ke platform X, Kent juga menyebutkan statusnya sebagai suami Gold Star yang kehilangan istrinya, Shannon, dalam peperangan di Timur Tengah. Ia menolak keras untuk mendukung pengiriman generasi muda Amerika untuk bertempur dan mati dalam perang yang menurutnya tidak memberikan manfaat bagi rakyat AS. Di sisi lain, Presiden Donald Trump merespons pengunduran diri ini dengan dingin. Berbicara kepada wartawan, Trump mengklaim tidak terlalu mengenal Kent dan menyebutnya "lemah dalam hal keamanan".
- Tuduhan Kampanye Misinformasi: Kent menuduh pejabat tinggi Israel dan media Amerika meluncurkan kampanye misinformasi untuk melemahkan platform America First milik Trump demi memicu perang.
- Respons Dingin Sang Presiden: Trump menyatakan bersyukur Kent keluar dari pemerintahannya karena ia menganggap pandangan Kent bahwa Iran "bukan ancaman" adalah pandangan yang sangat keliru.
- Dukungan Faksi MAGA: Ironisnya, langkah Kent justru mendapat pujian dari beberapa tokoh sayap kanan dan pendukung gerakan MAGA yang menentang keterlibatan AS dalam perang proksi tanpa akhir.
Konflik internal di dalam pucuk pimpinan pemerintahan AS ini menyoroti perpecahan tajam terkait arah kebijakan luar negeri, khususnya di kawasan Timur Tengah. Berikut adalah ringkasan perbandingan posisi yang berbenturan dari insiden ini:
| Aspek Perdebatan | Posisi Joe Kent (Eks-Direktur NCTC) | Posisi Donald Trump (Presiden AS) |
|---|---|---|
| Status Ancaman dari Iran | Menilai Iran secara objektif tidak menghadirkan ancaman militer yang nyata dan mendesak bagi AS. | Menegaskan dengan keras bahwa Iran merupakan ancaman yang riil dan harus dihadapi. |
| Pemicu Terjadinya Perang | Mengklaim kuat bahwa perang murni dipicu oleh tekanan berlebihan dari lobi Israel di Washington. | Mendukung tindakan perang sebagai langkah perlindungan yang diperlukan dan mengkritik kelemahan sikap Kent. |
Kepergian Joe Kent, yang sebelumnya disahkan pada Juli 2025 lewat pemungutan suara Senat yang alot (52-44), kini meninggalkan kekosongan strategis di pucuk pimpinan badan anti-terorisme AS. Publik dan pengamat politik kini menanti langkah selanjutnya dari Gedung Putih dalam menunjuk pengganti untuk mengisi posisi krusial tersebut di tengah eskalasi konflik yang sedang memuncak.



