Duka dari Kamboja: Gadis Asal Siak Riau yang Diduga Korban Scam Meninggal Dunia
Baca dalam 60 detik
- Susi Yanti (23), warga Siak, meninggal dunia di Kamboja setelah diduga menjadi korban TPPO.
- Korban awalnya dijanjikan kerja di Malaysia namun dibawa ke Kamboja untuk bekerja di sektor scammer.
- BP3MI dan KBRI sedang mengupayakan pemulangan jenazah ke Indonesia.

Duka dari Kamboja: Gadis Asal Siak Riau yang Diduga Korban Scam Meninggal Dunia
Kabar duka menyelimuti Kabupaten Siak, Riau. Seorang gadis muda bernama Susi Yanti Br Sinaga (23) dilaporkan meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Phnom Penh, Kamboja, pada Minggu (8/3/2026). Berdasarkan laporan dari Kompas Regional, korban diduga kuat merupakan korban sindikat scamming dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Susi sebelumnya berangkat ke luar negeri pada Desember 2025 setelah dijanjikan pekerjaan di Malaysia oleh temannya, namun malah berakhir di industri daring ilegal di Kamboja. Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat dirawat intensif dalam kondisi kritis akibat sakit parah, sementara pihak keluarga terus berupaya mencari bantuan untuk pemulangannya.
KRONOLOGI & STATUS PEMULANGAN (2026)
| Detail Kejadian | Informasi Terkini |
|---|---|
| Penyebab Kematian | Meninggal setelah perawatan intensif di ICU RS Khmer Soviet Friendship. |
| Upaya Pemerintah | BP3MI Riau & KBRI Phnom Penh sedang mengoordinasikan pemulangan jenazah. |
| Latar Belakang | Berangkat secara ilegal bersama pacarnya dengan janji kerja di Malaysia. |
Kepala BP3MI Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, mengonfirmasi bahwa keluarga korban telah meminta bantuan untuk pemulangan jenazah ke Indonesia. Saat ini, pemerintah daerah dan pusat sedang mengupayakan bantuan biaya pemulangan mengingat besarnya tagihan medis dan biaya logistik yang harus ditanggung oleh keluarga di kampung halaman.
Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang bahaya sindikat perdagangan orang yang menyasar tenaga kerja muda dengan iming-iming gaji tinggi. Di tahun 2026, fenomena TPPO di sektor industri daring masih menjadi ancaman serius, menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam perangkap "scammer" yang berujung pada penderitaan fisik dan hilangnya nyawa.



