Sembilan Aktivis Kemanusiaan Tiba di Indonesia, Menlu Kecam Tindakan Israel
Baca dalam 60 detik
- Sembilan WNI aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan Israel telah kembali ke Tanah Air dan disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono.
- Pemerintah Indonesia mengecam penahanan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan telah menyuarakan protes di Dewan Keamanan PBB.
- Sejumlah aktivis dilaporkan mengalami trauma fisik dan akan mendapatkan penanganan medis lebih lanjut dari pihak berwenang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6828265/original/038075800_1779617473-20260524_162751.jpg)
Menteri Luar Negeri Sugiono secara resmi menyambut kepulangan sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026). Kedatangan mereka menandai berakhirnya masa penahanan oleh otoritas Israel yang sebelumnya menghalangi upaya pengiriman bantuan ke Palestina.
Dalam sambutannya, Sugiono menyampaikan rasa syukur atas keselamatan para aktivis dan mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Yordania, Mesir, dan Turki, yang turut memfasilitasi proses pemulangan. βTerima kasih khusus kepada Pemerintah Turki yang membantu penjemputan dari Ashdod,β ujarnya.
Sugiono menegaskan bahwa penahanan terhadap para aktivis sipil yang membawa bantuan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. βIni adalah tindakan yang tidak bisa diterima dan tidak boleh dibiarkan,β tegasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa peserta mengalami trauma fisik dan akan mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Langkah Indonesia ini mempertegas posisi konsisten negara dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Misi Global Sumud Flotilla sendiri merupakan gerakan sipil global yang bertujuan menerobos blokade dan memberikan bantuan langsung ke Gaza. Kembalinya para aktivis ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas internasional terhadap isu kemanusiaan di Palestina.
Ke depan, pemerintah akan terus memantau kondisi para aktivis dan memastikan pemulihan mereka berjalan optimal. Kasus ini juga menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan bagi pekerja kemanusiaan di zona konflik.



