Mitos Rupiah Lemah Dongkrak Ekspor Dibantah Ekonom: Stabilitas Lebih Vital
Baca dalam 60 detik
- Narasi populer di media sosial bahwa depresiasi rupiah otomatis meningkatkan ekspor dinilai keliru oleh ekonom karena mengabaikan ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur.
- Pelemahan kurs justru memicu imported inflation yang menggerus daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi domestik yang saat ini mencapai 5,61%.
- Pelaku usaha lebih membutuhkan stabilitas nilai tukar untuk perencanaan bisnis, bukan level kurs tertentu, sebagaimana tercermin dari tingginya undisbursed loan perbankan di atas 20%.

Viralnya narasi di media sosial yang mengklaim pelemahan rupiah sebagai berkah bagi ekspor Indonesia mendapat bantahan keras dari ekonom senior. Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai logika tersebut terlalu simplistis dan berbahaya jika dijadikan dasar kebijakan atau keputusan bisnis.
Menurut Josua, keuntungan depresiasi hanya dinikmati segelintir eksportir komoditas mentah yang pendapatannya dalam dolar AS. Namun, mayoritas pelaku industri manufaktur justru terjepit karena harus mengimpor bahan baku dengan harga lebih mahal. "Eksportir komoditas memang diuntungkan secara langsung, tapi industri manufaktur yang mengimpor bahan baku sebelum mengekspor produk jadi justru terbebani," tegasnya dalam diskusi bersama Bank Indonesia.
Dampak lanjutan dari imported inflation mengancam momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini berada di kisaran 5,61%. Produk manufaktur yang semula untuk konsumsi domestik menjadi lebih mahal, sehingga permintaan masyarakat menurun. Kondisi ini berpotensi memperlambat laju ekonomi secara keseluruhan.
Josua menekankan bahwa yang paling dibutuhkan dunia usaha bukanlah level kurs tertentu, melainkan stabilitas. "Tugas Bank Indonesia bukan mengarahkan rupiah ke level tertentu, melainkan menjaga stabilitas. Ini yang paling dibutuhkan pelaku usaha untuk perencanaan bisnis mereka," ujarnya. Ketidakpastian nilai tukar membuat perusahaan menunda realisasi kredit, tercermin dari angka undisbursed loan perbankan yang masih di atas 20%.
Fenomena ini menunjukkan bahwa edukasi ekonomi yang jujur dan komprehensif sangat diperlukan agar publik tidak terjebak dalam mitos bahwa pelemahan rupiah selalu menguntungkan. Stabilitas nilai tukar justru menjadi prasyarat utama bagi investasi dan pertumbuhan berkelanjutan.



