Misi Kemanusiaan Berujung Trauma: 9 WNI Alami Kekerasan Fisik Selama Ditahan Israel
Baca dalam 60 detik
- Sembilan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla mengaku mendapat perlakuan kasar, termasuk pemukulan dan penginjakan, selama ditahan aparat Israel.
- Menlu Sugiono mengonfirmasi laporan trauma fisik pada para relawan dan menjamin penanganan medis lebih lanjut bagi mereka.
- Salah satu korban, Herman Budianto, menyebut adanya bilik khusus penyiksaan yang digunakan secara bergantian terhadap tahanan asing.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6832653/original/053807700_1779620748-20260524_164230.jpg)
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono mengonfirmasi bahwa sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla mengalami kekerasan fisik selama ditahan oleh militer Israel. Pengakuan ini disampaikan setelah para relawan tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, pada Minggu (24/5/2026).
Salah satu WNI, Herman Budianto, menuturkan secara rinci perlakuan yang diterimanya. Menurut Herman, penyiksaan terjadi terutama saat proses pemindahan antarlokasi penahanan. "Kita harus merangkak, nunduk, dan tidak boleh mengangkat kepala sedikit pun. Jika melanggar, langsung ditendang dan dipukul," ujarnya. Ia juga mengungkapkan keberadaan bilik khusus yang digunakan untuk mengeksekusi tahanan secara bergiliran, termasuk dirinya yang sempat diinjak saat terjatuh.
Menlu Sugiono menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan trauma fisik yang dialami para relawan dan akan menindaklanjuti dengan penanganan medis. "Ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan ditangani lebih lanjut," katanya dalam sambutan kedatangan. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi WNI di luar negeri, terutama dalam situasi konflik.
Herman juga membandingkan pengalamannya dengan penderitaan warga Palestina yang ditahan Israel. Menurutnya, apa yang dialami para relawan jauh lebih ringan dibandingkan ribuan tahanan Palestina yang kerap mengalami penyiksaan, pelecehan, bahkan kematian di dalam sel. Ia menyampaikan kesaksiannya dengan tangis haru, yang langsung disambut oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A. K. Alsattari, dengan menggandeng tangannya sebagai bentuk dukungan.
Insiden ini menyoroti risiko yang dihadapi relawan kemanusiaan di zona konflik serta pentingnya diplomasi untuk memastikan keselamatan mereka. Ke depan, kasus ini diharapkan mendorong evaluasi prosedur perlindungan WNI yang terlibat dalam misi serupa, serta memperkuat desakan internasional terhadap perlakuan manusiawi bagi semua tahanan di wilayah konflik.



