Klaim Kebocoran Data Nasabah BCA Dibantah, Manajemen Tegaskan Sistem Aman
Baca dalam 60 detik
- BCA secara resmi membantah adanya kebocoran data nasabah setelah muncul klaim dari akun Dark Web Intelligence yang menyebutkan 890.000 akses mobile banking dan 4,9 juta catatan database bocor.
- Manajemen menegaskan telah melakukan investigasi menyeluruh dan tidak menemukan bukti kebocoran dari sistem internal, serta menerapkan standar keamanan berlapis untuk melindungi data nasabah.
- Nasabah diimbau untuk tetap waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan BCA dan tidak membagikan data rahasia seperti BCA ID, password, OTP, dan PIN.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) angkat bicara menanggapi kabar yang beredar mengenai dugaan kebocoran data nasabah. Melalui keterangan resmi pada Minggu (25/5/2026), manajemen BCA membantah keras informasi tersebut dan memastikan bahwa seluruh data nasabah tetap dalam kondisi aman. Klaim yang muncul dari akun Dark Web Intelligence di platform X disebut tidak benar dan tidak berdasar.
Dalam pernyataannya, BCA mengonfirmasi bahwa tim internal telah melakukan investigasi menyeluruh terhadap sistem dan tidak menemukan indikasi adanya kebocoran data. Manajemen menekankan bahwa perusahaan secara konsisten menerapkan strategi keamanan berlapis serta mitigasi risiko untuk menjaga kerahasiaan data dan keamanan transaksi digital nasabah. Langkah ini mencakup pemantauan 24 jam, enkripsi data, dan pembaruan sistem secara berkala.
BCA juga mengingatkan nasabah untuk selalu waspada terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan bank. Pihaknya meminta nasabah tidak memberikan data pribadi perbankan yang bersifat rahasia, seperti BCA ID, password, One Time Password (OTP), dan Personal Identification Number (PIN) kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank. Selain itu, nasabah disarankan untuk mengubah PIN dan password secara berkala guna meminimalkan risiko penyalahgunaan.
Isu kebocoran data ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keamanan siber di sektor perbankan. Meskipun BCA telah membantah klaim tersebut, investor dan nasabah tetap perlu mencermati langkah-langkah pengamanan yang diterapkan oleh bank. Kepercayaan terhadap sistem keamanan menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas operasional dan reputasi perusahaan.
Ke depan, BCA diharapkan terus memperkuat sistem keamanan sibernya dan memberikan transparansi kepada publik mengenai prosedur penanganan insiden. Edukasi kepada nasabah juga menjadi prioritas agar mereka mampu mengidentifikasi dan menghindari upaya penipuan yang semakin canggih. Dengan demikian, risiko kebocoran data dapat diminimalkan dan kepercayaan nasabah tetap terjaga.



