Kritik Tajam Legenda: Paul Scholes Sebut Manchester United "Sampah" di Bawah Kendali Michael Carrick
Baca dalam 60 detik
- Paul Scholes melontarkan kritik tajam kepada manajer interim MU, Michael Carrick, melalui Instagram story usai kekalahan dari Newcastle.
- Scholes menyebut performa United dalam empat laga terakhir sangat buruk, meskipun secara statistik tim meraih 10 poin dari 12 poin maksimal sebelum kekalahan tersebut.
- Kritik ini sejalan dengan sejarah vokal Scholes terhadap manajer-manajer MU sebelumnya, termasuk kritik pedasnya terhadap taktik Ruben Amorim dan Erik ten Hag.

Kritik Tajam Legenda: Paul Scholes Sebut Manchester United "Sampah" di Bawah Kendali Michael Carrick
Legenda hidup Manchester United, Paul Scholes, kembali melontarkan kritik pedas terhadap mantan rekan setimnya yang kini menjabat sebagai manajer sementara (caretaker) Setan Merah, Michael Carrick. Kekecewaan Scholes memuncak setelah United menderita kekalahan 2-1 dari Newcastle United pada Rabu malam, sebuah hasil yang memutus tren positif tim sejak awal tahun.
Melalui unggahan di media sosial Instagram pribadinya, Scholes memberikan sindiran sarkastik terkait performa tim di bawah asuhan Carrick. Meski sebelumnya United berhasil mengumpulkan 10 poin dari empat pertandingan terakhir, Scholes menilai kualitas permainan tim tetap tidak memuaskan dan bahkan menyebut performa klub dalam beberapa laga terakhir sebagai "sampah" (c**p).
π POIN KRITIK & CATATAN MANAJERIAL:
Kritik ini menambah tekanan bagi manajemen Manchester United (INEOS) dalam menentukan arah kepelatihan permanen. Scholes, yang kini aktif sebagai analis TNT Sports, secara terbuka juga memuji gelandang lawan, Sandro Tonali, memberikan indikasi bahwa standar kualitas pemain di Old Trafford saat ini masih jauh dari harapannya.
Bagi Michael Carrick, serangan verbal dari mantan koleganya ini menjadi ujian mental tersendiri di tengah upayanya menstabilkan tim pasca pemecatan Ruben Amorim. Meskipun Carrick telah membawa perubahan positif jangka pendek, skeptisisme dari para legenda klub seperti Scholes membuktikan bahwa tuntutan untuk mengembalikan sepak bola menghibur di Teater Impian tetap menjadi harga mati yang sulit untuk ditawar.
Senior Editor & Strategic Analyst β’ p3mbelahlaut



