Kemenangan 26 detik Joshua Van atas Alexandre Pantoja di akhir 2025 ternyata tidak hanya menciptakan juara baru, tetapi juga memicu perang dingin antara generasi petarung Asia di UFC.
Kyoji Horiguchi, yang baru saja kembali ke UFC dengan performa dominan, merasa bahwa mahkota kelas terbang saat ini berada di tangan yang salah. Sebagai rekan setim Pantoja di American Top Team, Horiguchi menyebut Van hanya beruntung karena cedera "aneh" yang dialami Pantoja saat kakinya ditangkap oleh Van. Menurut Horiguchi, Van tidak memiliki level yang cukup untuk bertahan melawan gaya tekan (pressure) Pantoja yang sudah pulih sepenuhnya.
Titik Konflik: Joshua Van vs. Veteran ATT
- Status Gelar: Horiguchi dan beberapa analis menyebut Van sebagai "Juara Kebetulan" karena durasi pertarungan yang sangat singkat (26 detik).
- Faktor Rekan Setim: Pantoja menyebut Horiguchi sebagai partner latihan terbaiknya, mengonfirmasi bahwa Horiguchi tahu betul seberapa kuat "The Cannibal" sebenarnya.
- Tantangan Joshua Van: Van membalas kritik dengan menyebut bahwa ia adalah juara termuda kedua dalam sejarah UFC karena kemampuannya, bukan keberuntungan semata.
Perselisihan ini memberikan bumbu pedas pada divisi flyweight tahun 2026. Dengan Van yang kini bersiap melawan Tatsuro Taira di Miami (UFC 327), tekanan ada pada sang juara muda untuk membuktikan bahwa kemenangannya bukanlah kecelakaan. Jika Van menang melawan Taira, ia mungkin akan langsung berhadapan dengan Horiguchi atau Pantoja dalam duel unifikasi yang emosional.
Kesimpulannya, bagi para penggemar MMA, debat ini bukan soal siapa yang benar, tapi soal siapa yang bisa membuktikannya di dalam oktagon. Tahun 2026 akan menjadi pembuktian apakah Joshua Van adalah masa depan divisi, atau sekadar "peran pembantu" dalam narasi kembalinya para raja lama.




