Investigasi Disipliner UEFA: Gianluca Prestianni Berikan Kesaksian Terkait Dugaan Pelecehan Terhadap Vinícius Jr
Baca dalam 60 detik
- Klarifikasi Verbal: Gelandang Benfica membantah penggunaan terminologi rasis, namun mengakui adanya penggunaan umpatan homofobik dalam konfrontasi di lapangan.
- Protokol Investigasi: Real Madrid telah menyerahkan dokumen bukti komprehensif kepada UEFA guna mendukung kesaksian Kylian Mbappé yang mengklaim mendengar pelecehan tersebut secara langsung.
- Risiko Sanksi Berat: Mengacu pada Pasal 14 kode etik UEFA, setiap pelaku diskriminasi terancam hukuman larangan bertanding minimal sepuluh pertandingan tanpa memandang kategori cercaan yang digunakan.

NYON, SWISS — Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) secara resmi memulai proses penyelidikan disipliner terkait insiden yang melibatkan penyerang Real Madrid, Vinícius Jr, dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Ketegangan yang terjadi dalam laga babak playoff Liga Champions di Estádio da Luz ini memicu interupsi pertandingan selama sepuluh menit setelah adanya laporan mengenai pelecehan verbal. Menurut laporan terbaru, Prestianni telah memberikan kesaksian langsung kepada tim investigator untuk mengklarifikasi diksi yang digunakan dalam konfrontasi tersebut.
Dalam pembelaannya, sumber internal menyebutkan bahwa Prestianni secara tegas menolak tuduhan penggunaan istilah rasisme dalam bahasa Spanyol. Namun, sang pemain dilaporkan mengakui penggunaan hinaan anti-gay sebagai bentuk balasan verbal. Pengakuan ini selaras dengan keterangan gelandang Real Madrid, Aurelien Tchouameni, yang menyatakan bahwa pemain Benfica tersebut bersikeras tidak melakukan pelecehan rasial saat dikonfrontasi di area permainan, melainkan mengakui adanya cercaan homofobik.
Analisis teknis terhadap regulasi UEFA menunjukkan bahwa strategi pembelaan Prestianni tidak serta-merta meringankan potensi sanksi. Berdasarkan Pasal 14 Regulasi Disiplin UEFA, pelecehan terhadap martabat manusia—baik berdasarkan ras maupun orientasi seksual—berada di bawah payung hukum yang sama. Aturan ini menetapkan hukuman minimal berupa suspensi sepuluh pertandingan bagi subjek yang terbukti melakukan pelanggaran. Hal ini menandakan bahwa pengakuan terhadap cercaan homofobik tetap menempatkan karier kompetisi Eropa sang pemain dalam risiko besar.
Real Madrid menunjukkan keseriusan dalam mengawal kasus ini dengan menyerahkan berkas bukti yang mencakup rekaman dan kesaksian tertulis. Kylian Mbappé, yang berada di lokasi kejadian, memberikan dukungan kuat kepada rekan setimnya dengan menegaskan bahwa ia mendengar cercaan tersebut dilakukan berulang kali. Dukungan internal ini memperkuat posisi hukum Madrid di hadapan komisi disiplin, sekaligus memberikan tekanan tambahan bagi UEFA untuk menegakkan integritas kompetisi.
Pelatih Real Madrid, Álvaro Arbeloa, menilai bahwa resolusi kasus ini akan menjadi tolok ukur efektivitas kebijakan nol toleransi UEFA. Dalam konteks industri olahraga global, kegagalan dalam memberikan sanksi yang tegas dapat berdampak pada citra komersial Liga Champions sebagai kompetisi paling bergengsi di dunia. Investigasi ini kini memasuki fase peninjauan bukti fisik untuk menentukan validitas kesaksian dari kedua belah pihak sebelum keputusan final dijatuhkan.



