YERUSALEM — Di bawah langit malam yang dingin di bulan Februari 2026, ribuan sajadah terbentang di pelataran batu kuno Haram al-Sharif. Meski ketegangan politik sedang memuncak, panggilan iman terbukti lebih kuat daripada barikade besi. Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa pelaksanaan Tarawih pertama di Masjid Al-Aqsa berlangsung khidmat, namun dibayangi oleh kehadiran aparat keamanan Israel yang sangat mencolok di setiap sudut Kota Tua.
Analisis Lapangan: Ibadah di Zona Merah
Bagi warga Palestina, Ramadan di Al-Aqsa bukan sekadar ritual agama, tetapi pernyataan eksistensi. Setiap tahun, "Perang Gerbang" terjadi, di mana akses masuk dibatasi berdasarkan usia dan domisili (Tepi Barat vs Yerusalem Timur).
Kontras Suasana: 2025 vs 2026
| Ramadan Sebelumnya | Ramadan 2026 (Sekarang) |
|---|---|
| Fokus: Bentrokan sporadis di Gerbang Damaskus dan penodaan situs suci. | Fokus: Solidaritas total untuk Gaza dan penolakan Aneksasi Tepi Barat. |
| Akses: Pembatasan usia standar (biasanya pria di bawah 40/50 tahun dilarang). | Akses: Pemeriksaan digital yang lebih ketat, banyak izin masuk warga Tepi Barat dicabut mendadak. |
Outlook: Potensi "Flashpoint"
Jumat pertama Ramadan nanti akan menjadi ujian sesungguhnya. Biasanya, jumlah jemaah akan melonjak hingga ratusan ribu. Dengan pemerintah sayap kanan Israel yang kini memegang kendali penuh atas kebijakan keamanan (seperti Ben-Gvir), risiko provokasi di kompleks masjid—seperti kunjungan pemukim ilegal selama jam puasa—sangat tinggi. Jika itu terjadi, Al-Aqsa bisa kembali menjadi titik nyala yang membakar seluruh kawasan.




