Helikopter Water Bombing Jatuh di Barito, BNPB Tegaskan Operasi Karhutla Jalan Terus
Baca dalam 60 detik
- BNPB memastikan insiden jatuhnya Super Puma H-225 di Sungai Barito tidak menghentikan operasi pemadaman karhutla di sejumlah wilayah.
- Dua pilot asal Australia selamat dan telah dirawat, sementara satu awak HLO asal Indonesia, Yayan Supyansuri, masih dalam pencarian.
- Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasi udara akan dilakukan, mencakup kelaikan armada, water bombing, dan faktor cuaca.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah tetap berjalan meski sebuah helikopter jatuh di perairan Sungai Barito, Kalimantan Selatan, Minggu (8/11). Insiden tersebut menjadi ujian bagi kesiapan operasi udara pemerintah dalam menghadapi musim kering yang masih membayangi.
Helikopter jenis Super Puma H-225 dengan registrasi VH-HGM diduga jatuh di Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala. Dari tiga awak yang bertugas, dua orang pilot berkewarganegaraan Australia berhasil ditemukan selamat dan telah menjalani perawatan medis. Satu awak lainnya, Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia yang menjabat sebagai Helicopter Landing Officer (HLO), masih dinyatakan hilang hingga Minggu sore.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa insiden ini tidak boleh menyurutkan komitmen pemerintah dalam menanggulangi karhutla. Menurutnya, operasi pemadaman harus tetap dilaksanakan, tetapi dengan pengawasan keselamatan yang lebih ketat. "Kejadian ini tidak mengurangi komitmen pemerintah untuk terus melakukan penanganan karhutla. Operasi pemadaman tetap harus berjalan, tetapi harus dilaksanakan dengan memerhatikan aspek keselamatan secara ketat," ujar Berton dalam konferensi pers daring di Jakarta, Minggu (8/11).
Tim penyelamat dari Basarnas Kantor SAR Banjarmasin langsung bergerak ke lokasi kejadian. Sebanyak 18 personel diberangkatkan pada pukul 13.10 WITA. Operasi pencarian turut melibatkan unsur TNI AU, Polri, Babinsa, dan masyarakat setempat. Prioritas utama saat ini adalah menemukan korban hilang, memulihkan kondisi kedua pilot, serta mengamankan bangkai helikopter di tepian sungai.
Insiden ini memunculkan pertanyaan tentang standar keselamatan dalam operasi udara penanggulangan bencana. Helikopter water bombing biasanya beroperasi pada ketinggian rendah dan sering kali harus mengambil air dari sumber yang tidak selalu ideal, seperti sungai dengan arus deras atau genangan yang dikelilingi vegetasi. Faktor cuaca yang berubah cepat dan karakteristik lokasi menjadi risiko yang melekat pada setiap misi.
"Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air, kelaikan awak, hingga faktor cuaca dan karakteristik lokasi," kata Berton.
BNPB juga berkomitmen memfasilitasi investigasi resmi dari pihak berwenang untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Langkah ini penting agar tidak muncul spekulasi di tengah masyarakat yang bisa mengganggu jalannya operasi. Evaluasi akan mencakup seluruh aspek operasi udara, mulai dari perawatan helikopter, pelatihan awak, hingga protokol pengambilan air.
Bagi Indonesia, karhutla bukan sekadar bencana lingkungan tahunan, tetapi juga persoalan ekonomi dan kesehatan publik. Asap yang dihasilkan sering kali melintasi batas provinsi bahkan negara, memicu gangguan penerbangan dan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan. Operasi pemadaman udara menjadi tulang punggung penanganan di wilayah yang sulit dijangkau tim darat. Karena itu, gangguan pada armada udara bisa memperlambat respons secara keseluruhan.
Ke depan, fokus BNPB adalah memastikan operasi tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan awak. Evaluasi menyeluruh diharapkan menghasilkan prosedur yang lebih ketat, termasuk penilaian risiko sebelum setiap misi water bombing. Pertanyaannya, apakah evaluasi ini akan cukup cepat mengantisipasi potensi karhutla berikutnya, mengingat musim kering masih berlangsung di sejumlah wilayah?



