Usai Kekalahan di Pemilu Tengah, Trump Angkat Stephen Miller ke Kursi Kepala Staf Gedung Putih
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump menunjuk Stephen Miller, arsitek kebijakan deportasi massal, sebagai kepala staf Gedung Putih menggantikan Susie Wiles yang dicopot.
- Langkah ini memicu kritik keras dari politisi Partai Demokrat dan bahkan sejumlah Republikan yang menilai Miller terlalu ekstrem dan kontroversial.
- Penunjukan Miller dinilai sebagai sinyal bahwa Trump akan memperkuat agenda anti-imigrasi dan konservatif garis keras, meski baru saja kalah dalam pemilu tengah.

Kurang dari sepekan setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilu tengah Amerika Serikat, Presiden Donald Trump justru mengambil langkah yang dinilai kontroversial dengan menunjuk Stephen Miller sebagai kepala staf Gedung Putih. Pengumuman itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Jumat sore waktu setempat, menggantikan Susie Wiles yang dikonfirmasi telah dicopot dari jabatannya.
Miller, yang selama ini menjabat sebagai wakil kepala staf, dikenal sebagai otak di balik kebijakan deportasi massal dan pengetatan imigrasi pemerintahan Trump. Promosi ini sontak memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan, termasuk dari dalam Partai Republik sendiri. Sejumlah anggota parlemen Demokrat mengecam Miller dengan label keras: "pembenci", "xenofob", dan "keji". Senator Dick Durbin dari Illinois menulis di media sosial X bahwa Trump "tidak belajar apa pun" dari kekalahan elektoralnya dengan mempromosikan sosok seperti Miller.
Senator Chuck Schumer, yang diperkirakan akan menjadi pemimpin mayoritas Senat, menilai Trump telah melakukan "kesalahan terburuk" dengan memilih Miller. Sementara itu, Hakeem Jeffries, tokoh Demokrat di DPR yang digadang-gadang menjadi ketua DPR kulit hitam pertama, menuntut Miller segera dicopot karena disebut sebagai "xenofob berbahaya dan ekstremis sembrono yang membuat darah orang Amerika tertumpah".
Kritik juga datang dari Gubernur California Gavin Newsom yang menyebut Miller sebagai "salah satu preman paling keji yang pernah masuk ke Oval Office" dan menilai langkah Trump sebagai penghinaan bagi rakyat Amerika yang menginginkan perubahan. Namun, sekutu Trump justru menyambut baik penunjukan ini. Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung memuji Miller sebagai "Trump OG" dan menegaskan tidak ada pendukung agenda Trump yang lebih gigih darinya.
Senator Mike Lee dari Utah menyebut Miller sebagai "pembela setia penegakan hukum terhadap invasi ilegal dan kekacauan kiri". Senator Eric Schmitt dari Missouri menambahkan bahwa Miller memahami betul apa yang dipertaruhkan bangsa ini. Dukungan juga mengalir dari sejumlah menteri kabinet seperti JD Vance, Pete Hegseth, Robert F Kennedy Jr, dan Marco Rubio.
Meski demikian, tidak semua Republikan sepakat. Anggota DPR dari Indiana Marlin Stutzman, yang sebelumnya menyerukan agar Miller dipecat, kepada Semafor mengaku keputusan Trump kali ini sebagai "keputusan yang mengerikan". Miles Taylor, mantan kepala staf Departemen Keamanan Dalam Negeri di era Trump pertama yang kemudian beralih menjadi pengkritik, menyatakan bahwa penunjukan Miller sebagai kepala staf adalah "salah satu keputusan personalia paling berbahaya dalam sejarah republik ini".
"Saya menghabiskan dua tahun bekerja dengan Stephen Miller. Penunjukannya sebagai kepala staf Gedung Putih adalah salah satu keputusan personalia paling berbahaya dalam sejarah republik kita. Saya katakan itu tanpa ragu." โ Miles Taylor, mantan pejabat DHS
Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih memuji Miller sebagai "pemain kunci" yang telah menjalankan agenda Trump, termasuk penindakan kriminal di Washington DC dan Memphis, deregulasi besar-besaran, eksploitasi energi, pembongkaran kartel narkoba, dan pengamanan perbatasan. "Di peran barunya, ia akan terus memberikan kesuksesan historis bagi rakyat Amerika," demikian pernyataan Gedung Putih.
Miller sendiri menyatakan rasa terima kasihnya kepada Trump dan menyebut dirinya "terhormat luar biasa" bisa mengabdi. "Misi sekarang lebih jelas dari sebelumnya: berjuang dengan segenap jiwa untuk mendukung Presiden dan membela republik yang agung ini," tulisnya di X.
Bagi Indonesia, penunjukan Miller sebagai kepala staf Gedung Putih dapat menjadi sinyal bahwa kebijakan imigrasi AS akan semakin ketat, yang berpotensi memengaruhi warga Indonesia yang tinggal atau bekerja di sana, serta hubungan bilateral di bidang mobilitas dan kerja sama keamanan. Dengan Miller yang dikenal garis keras, prospek kerja sama di sektor imigrasi dan tenaga kerja menjadi lebih menantang.
Ke depan, keputusan ini akan menjadi ujian bagi Trump dalam merangkul kembali pemilih moderat yang telah berpaling pada pemilu tengah, sekaligus mempertahankan basis konservatif garis keras. Apakah Miller mampu menjembatani kedua kubu, atau justru memperlebar polarisasi, masih menjadi pertanyaan besar.



