Dafne Keen Ungkap Tawaran Kokain di Pesta Wrap Film Saat Usia 11 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Dafne Keen mengaku pernah ditawari kokain di pesta wrap film Logan saat ia masih berusia 11 tahun.
- Pengalaman pahit itu membuatnya tak tertarik pada alkohol dan narkoba hingga kini.
- Ia memuji Hugh Jackman yang melindunginya dari tekanan industri Hollywood.

Dafne Keen, aktris muda yang dikenal lewat perannya sebagai Laura di film Logan (2017), mengungkap sisi gelap industri hiburan Hollywood. Dalam wawancara di podcast Inside of You, ia mengaku pernah ditawari kokain di pesta perayaan selesainya syuting ketika usianya baru 11 tahun.
Keen, yang kini berusia 21 tahun, menuturkan bahwa pengalaman tersebut membekas dan membentuk sikapnya terhadap alkohol dan narkoba. โAku rasa aku belum pernah mabuk sampai kena hangover. Aku sangat mengontrol hal itu,โ ujarnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana obat-obatan terlarang beredar di lingkungan kerja saat ia masih anak-anak. โAku ditawari coke di pesta wrap. Masih sangat kecil, sekitar 11, 12, 13 tahun. Jadi aku tahu itu tidak baik, dan aku menolak,โ tambahnya.
Alih-alih terjerumus, Keen memilih menjauh dari tekanan teman sebaya. Ia mengaku sempat berbohong kepada rekan-rekannya agar tidak perlu minum alkohol. โAku bilang, โTidak, aku sudah minum sesuatu.โ Padahal sama sekali tidak minum. Aku benar-benar polos,โ kenangnya. Meski tidak mengonsumsi alkohol, ia menegaskan tetap bisa bersenang-senang. โAku akan keluar sampai pukul 6 pagi, tapi dalam keadaan sadar. Hanya untuk menikmati suasana, musik, dansa, dan bertemu orang,โ ucapnya.
Di balik pengalaman pahit itu, Keen menyimpan kenangan positif tentang Hugh Jackman, lawan mainnya di Logan. Ia menyebut Jackman sebagai sosok yang sangat protektif dan memberikan banyak nasihat berharga. โDia adalah orang nomor satu terbaik yang bisa kau harapkan. Dia memastikan tidak ada yang menyalahgunakan jam kerjaku, aku tetap bersenang-senang di lokasi syuting, dan tidak menyadari ketegangan yang mungkin terjadi di belakang layar,โ pujinya. Jackman, kata Keen, juga memperlakukannya seperti artis dewasa yang pendapatnya dihargai. โJika aku punya ide tentang sebuah adegan, orang-orang mendengarkannya. Aku merasa dilibatkan dalam proses,โ tuturnya.
Kasus Keen bukanlah yang pertama di Hollywood. Banyak aktor cilik yang mengalami tekanan serupa, namun hanya sedikit yang berani angkat bicara. Industri hiburan sering kali diwarnai budaya pesta yang tidak ramah anak, dan hal ini memicu kekhawatiran tentang perlindungan anak di lingkungan kerja kreatif. Di Indonesia, isu serupa juga menjadi perhatian, terutama setelah meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan anak di industri hiburan. Meski belum ada regulasi khusus yang mengatur secara rinci, beberapa organisasi seni mulai mendorong adanya pendampingan bagi artis cilik.
โAku sangat beruntung bisa menolak. Tidak semua anak seberuntung itu.โ โ Dafne Keen
Pengalaman Keen menjadi cermin betapa rentannya posisi anak-anak di dunia hiburan. Perlindungan dari orang dewasa di sekitar, seperti yang dilakukan Jackman, menjadi kunci. Namun, industri secara keseluruhan perlu membangun sistem yang lebih kuat, bukan hanya mengandalkan kebaikan individu. Ke depan, muncul pertanyaan: akankah Hollywood dan industri hiburan global memperketat pengawasan terhadap lingkungan kerja yang melibatkan anak-anak? Ataukah kisah Keen hanya menjadi catatan kelam yang terlupakan?



