Batas Kebisingan Kembang Api 90dB: Desakan Perlindungan Satwa Liar di Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris tengah mempertimbangkan penurunan ambang bising kembang api dari 120dB ke 110dB, namun koalisi pegiat menilai itu belum cukup.
- Usulan 90dB disebut mampu memangkas area gangguan hingga seperseratus dibandingkan rencana pemerintah, sekaligus mencegah kematian massal burung.
- Asosiasi kembang api Inggris menolak ambang 90dB dan memperingatkan potensi peralihan ke produk ilegal jika aturan terlalu ketat.

Pemerintah Inggris menghadapi tekanan baru untuk memperketat regulasi kembang api yang dijual bebas. Sejumlah organisasi perlindungan satwa menuntut ambang kebisingan maksimum diturunkan drastis dari 120 desibel (dB) menjadi 90dB, jauh melampaui usulan resmi yang hanya memangkasnya ke 110dB. Desakan ini muncul karena bunyi ledakan dinilai menyebabkan stres akut hingga kematian pada burung dan satwa liar lainnya.
Center for Wild Animal Welfare (CWAW) menyoroti bahwa penurunan ke 110dB—yang setara dengan separuh tingkat kekerasan suara—belum menyentuh akar masalah. Menurut lembaga itu, batas 90dB akan mengecilkan wilayah terganggu per kembang api hingga sekitar 100 kali lebih kecil dibandingkan skenario 110dB. Dengan begitu, risiko burung panik, bertabrakan, dan mati massal dapat ditekan secara signifikan.
Perdebatan ini bukan sekadar soal angka di atas kertas. Skala desibel bersifat logaritmik, sehingga setiap penurunan 10dB memangkas luas area terdampak hingga sepuluh kali lipat. Direktur CWAW, Richard Parr, menjelaskan bahwa suara kembang api keras dapat merambat hingga 10 kilometer. "Tidak ada alasan untuk menganggap satwa liar lebih tahan terhadap bunyi keras dibanding hewan peliharaan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa bagi hewan mangsa yang secara alami waspada, ledakan tak terduga bisa sangat menakutkan.
Kekhawatiran senada datang dari RSPCA. Pakar satwa liar lembaga itu, Rebecca Machin, menegaskan bahwa kembang api dan serpihannya mengganggu berbagai jenis hewan, terutama burung. Dampaknya meliputi terganggunya migrasi, lonjakan hormon stres, hingga bahaya sisa bahan peledak. Penelitian sebelumnya mencatat insiden kematian massal burung akibat tabrakan dengan pepohonan dan sesamanya saat panik mencari perlindungan.
Konsultasi pemerintah sendiri dipicu oleh gelombang petisi yang masing-masing mengumpulkan lebih dari 180.000 tanda tangan, serta debat parlemen pada Januari lalu. Selain ambang bising, kajian tersebut mencakup perluasan daftar kembang api yang dilarang dijual bebas dan peninjauan aturan produk berisiko rendah. Namun, pemerintah mengakui bahwa penetapan batas 90dB secara presisi dalam regulasi bukan perkara mudah karena sistem pengujian bising berpotensi dimanipulasi.
"Kami tidak yakin argumen untuk menurunkan batas ke 90 desibel sudah cukup kuat. Perubahan apa pun harus berbasis bukti manfaat yang jelas dan mempertimbangkan konsekuensi tak terduga, termasuk risiko orang beralih ke kembang api ilegal," kata juru bicara British Fireworks Association.
Asosiasi tersebut lebih memilih penegakan hukum yang lebih baik dan kampanye nasional tentang penggunaan kembang api yang aman dan bijak. Sementara itu, CWAW mendesak menteri untuk melangkah lebih jauh dari usulan 110dB. Mereka menilai penurunan ke 90dB adalah jalan tengah yang proporsional antara tradisi perayaan dan perlindungan ekosistem.
Jika Inggris mengadopsi batas 90dB, negara itu akan mengikuti jejak Selandia Baru yang lebih dulu menerapkannya pada 2008, disertai pembatasan hari penjualan dan kenaikan usia minimum pembeli. Keputusan akhir akan menjadi ujian bagi keseimbangan antara kebebasan merayakan dan tanggung jawab ekologis. Akankah parlemen memilih perlindungan satwa liar yang lebih tegas, atau bertahan pada kompromi yang dinilai para pegiat masih menyisakan ancaman?



