CVS Health Pecah Diri: Lepas 9.000 Apotek, Saham Anjlok 12%
Baca dalam 60 detik
- CVS Health berencana memisahkan bisnis apotek ritel dari lini asuransi dan PBM paling lambat semester I 2028.
- Langkah ini membalik akuisisi Aetna senilai US$78 miliar dan membongkar konglomerasi kesehatan yang dibangun sejak 2018.
- Pasar merespons negatif dengan penurunan saham dua digit, meski manajemen mengklaim keputusan diambil dari posisi kuat.

Raksasa layanan kesehatan Amerika Serikat, CVS Health, mengumumkan rencana memecah diri menjadi dua perusahaan terbuka pada paruh pertama 2028. Keputusan ini secara efektif membatalkan strategi integrasi vertikal yang dibangun lewat akuisisi Aetna senilai US$78 miliar pada 2018. Reaksi pasar pun keras: saham CVS ditutup merosot lebih dari 12% pada hari pengumuman, mencerminkan keraguan investor terhadap nilai jangka pendek dari pemisahan tersebut.
Pemisahan ini akan memisahkan sekitar 9.000 apotek ritel CVS dari bisnis asuransi kesehatan dan pharmacy benefit manager (PBM) Caremark—salah satu dari tiga PBM terbesar di Negeri Paman Sam. Entitas asuransi dan PBM akan tetap memakai nama CVS Health dan dikelola CEO David Joyner, sementara bisnis apotek akan menjadi CVS Pharmacy di bawah kepemimpinan Prem Shah, yang saat ini menjabat group president CVS Health. Pemegang saham lama akan memiliki saham di kedua perusahaan.
Joyner menegaskan bahwa keputusan ini diambil "dari posisi yang kuat", merujuk pada pemulihan bisnis Medicare Aetna dan kinerja apotek ritel yang solid. Ia juga menyatakan bahwa sinergi antara apotek dan PBM akan tetap terjaga melalui perjanjian komersial, sehingga tidak perlu integrasi struktur operasional. Namun, sejumlah analis melihat langkah ini juga dipicu oleh tekanan regulasi terhadap model integrasi vertikal perusahaan.
"Bisnis ini jauh berbeda dari yang dipertimbangkan tiga, lima, atau sepuluh tahun lalu, ketika apotek menghadapi berbagai hambatan yang sulit diatasi," ujar analis Leerink Partners, Michael Cherny, seperti dikutip CNBC.
Cherny menambahkan bahwa pemisahan menunjukkan stabilitas bisnis apotek, yang telah merebut pangsa pasar dari pesaing dan mengalami stabilisasi margin kotor berkat CostVantage—model penggantian biaya apotek baru yang diperkenalkan CVS tahun lalu dan diklaim lebih transparan. Meski demikian, investor tetap mencermati apakah apotek ritel akan kehilangan keunggulan kompetitif karena tidak lagi terhubung langsung dengan PBM yang menegosiasikan harga obat dan mengelola manfaat resep untuk perusahaan asuransi dan pemberi kerja.
Di sisi lain, PBM tengah menghadapi pengawasan bipartisan yang meningkat di Washington dan berbagai negara bagian. Anggota Partai Republik di Tennessee dan Arkansas telah mengesahkan undang-undang yang melarang kepemilikan bersama antara PBM dan apotek—aturan yang kini digugat di pengadilan oleh CVS dan perusahaan lain. Kritik terhadap PBM mencakup praktik penetapan harga yang tidak transparan, kekuatan pasar yang membesar, dan potensi konflik kepentingan ketika PBM dimiliki oleh perusahaan yang juga mengoperasikan asuransi dan apotek.
Bagi Indonesia, langkah CVS ini bisa menjadi cermin bagi industri kesehatan domestik yang mulai mengarah pada integrasi layanan. Konglomerasi seperti Grup Lippo melalui Siloam Hospitals, atau BUMN farmasi Bio Farma, tengah memperluas ekosistem dari hulu ke hilir. Namun, berbeda dengan CVS, integrasi di Indonesia masih dalam tahap awal dan belum menghadapi tekanan regulasi sekuat di AS. Pengamat menilai pemisahan CVS menegaskan bahwa model integrasi vertikal tidak selalu menjamin efisiensi, terutama ketika kepentingan bisnis dan regulasi berbenturan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pemisahan ini benar-benar akan menciptakan dua entitas yang lebih lincah dan inovatif, atau justru mengorbankan sinergi yang selama ini menjadi nilai jual CVS. Dengan tenggat 2028, pasar akan terus mencermati detail perjanjian komersial antara CVS Health dan CVS Pharmacy, serta bagaimana respons regulator terhadap struktur baru tersebut. Jika berhasil, langkah ini bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan kesehatan lain yang terjebak dalam dilema integrasi vertikal.



