Balita 20 Bulan Tewas di Toilet Pasar Kebayoran Lama, Motif Ekonomi Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Polisi menetapkan ibu kandung dan ayah tiri sebagai tersangka pembunuhan balita 20 bulan di toilet umum Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
- Motif ekonomi disebut melatarbelakangi aksi tersebut karena pelaku mengaku tidak mampu membiayai kedua anaknya.
- Kakak korban yang berusia tiga tahun kini dirawat Dinas Sosial, sementara jenazah balita diautopsi di RS Kramat Jati.

Seorang balita berusia 20 bulan berinisial SF ditemukan tewas setelah dibunuh oleh ibu kandungnya, JM (20), dan ayah tirinya, AR (22), di toilet umum Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (31/10). Kasus ini terungkap setelah pemilik toilet melaporkan dugaan sodomi, yang kemudian berkembang menjadi penyelidikan pembunuhan.
Kapolsek Kebayoran Lama, Kompol Seala Syah Alam, mengungkapkan bahwa kedua pelaku sempat membawa jasad korban menggunakan taksi online menuju Palmerah, lalu berjalan hingga Bendungan Hilir. Di sebuah lahan kosong di kawasan itu, mereka mengubur tubuh balita tersebut dengan kantong kresek. Polisi menangkap keduanya tak lama setelah laporan diterima.
Menurut Seala, penyidikan awal mengarah pada motif ekonomi. Pasangan muda itu mengaku tidak sanggup menghidupi dua anak mereka. "Mereka tidak mampu. Akhirnya dari dua bersaudara ini, yang paling kecil dibunuh oleh kedua orang tuanya," ujar Seala kepada wartawan, Minggu (1/11).
Kasus ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi kakak korban yang baru berusia tiga tahun. Pihak kecamatan telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk merawat anak tersebut sementara waktu. "Untuk kakaknya yang berusia tiga tahun, sudah dibantu oleh pihak kecamatan. Saya sudah berkoordinasi dengan Pak Camat untuk sementara dirawat di Dinsos," tambah Seala.
Jenazah SF saat ini sedang menjalani autopsi di Rumah Sakit Kramat Jati oleh tim dokter forensik. Hasil autopsi diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kematian dan melengkapi bukti untuk menjerat kedua tersangka dengan pasal berlapis, termasuk pembunuhan berencana dan kekerasan terhadap anak.
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Josias Simon, menilai kasus ini mencerminkan tekanan sosial-ekonomi yang ekstrem pada keluarga muda. "Kemiskinan bukan alasan pembenaran, tetapi ini menjadi alarm bagi negara untuk memperkuat jaring pengaman sosial, terutama bagi keluarga rentan dengan anak balita," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Peristiwa ini juga memantik pertanyaan tentang efektivitas program bantuan sosial dan pendampingan keluarga di tingkat kelurahan. Apakah kasus serupa bisa dicegah jika ada deteksi dini dari lingkungan sekitar? Polisi masih mendalami peran masing-masing tersangka dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Hingga berita ini diturunkan, kedua tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif di Polres Jakarta Selatan. Polisi berjanji mengusut tuntas kasus ini dan memastikan hak-hak anak yang tersisa tetap terlindungi.



