Schick vs Demirović: Duel Striker Tajam di BayArena, Siapa Lebih Mematikan?
Baca dalam 60 detik
- Patrik Schick dan Ermedin Demirović menjadi sorotan utama jelang laga Bayer Leverkusen vs VfB Stuttgart setelah keduanya menunjukkan ketajaman luar biasa musim ini.
- Schick mencatat rekor gol di enam laga awal Bundesliga dan efisiensi tembakan terbaik, sementara Demirović unggul dalam pressing dan konsistensi mencetak dua digit gol.
- Laga ini krusial bagi kedua tim yang sama-sama kalah di pekan ke-7, dan hasil akhir bisa menentukan arah perburuan tiket Eropa.

Bayer Leverkusen akan menjamu VfB Stuttgart di BayArena pada pekan ke-8 Bundesliga, Sabtu (19/10), dengan perhatian tertuju pada duel dua penyerang paling berbahaya di liga: Patrik Schick dan Ermedin Demirović. Keduanya diharapkan mampu membawa tim masing-masing kembali ke jalur kemenangan setelah sama-sama menelan kekalahan di pekan sebelumnya.
Schick, striker asal Republik Ceko, mengawali musim dengan performa impresif. Ia menjadi pemain Leverkusen pertama yang mencetak gol di enam pertandingan pembuka Bundesliga. Meski sempat memimpin daftar top skor, posisinya kini digeser oleh Niclas Füllkrug (Werder Bremen) yang mengoleksi delapan gol. Schick masih tertinggal tipis dan berbagi posisi kedua dengan Michael Olise. Di semua kompetisi, Schick telah mengemas 10 gol dari 12 laga, termasuk dua gol di Liga Europa dan dua gol di Piala DFB.
Yang membuat Schick istimewa adalah efisiensinya. Enam gol liganya lahir dari 24 tembakan, lebih sedikit dibanding Olise (31), Harry Kane (30), dan Phillip Tietz (25) yang jumlah golnya lebih sedikit. Rasio efisiensi tembakannya mencapai +2,1, terbaik di liga. Sejak akhir musim 2025/26, ia telah mencetak 15 gol dalam 15 pertandingan Bundesliga terakhir. Catatan ini menegaskan statusnya sebagai mesin gol utama Leverkusen.
Di kubu Stuttgart, Demirović juga tampil tajam. Penyerang asal Bosnia itu menjadi top skor klub di liga dengan tiga gol, plus empat gol di Liga Champions dari tiga laga. Secara keseluruhan, ia mengoleksi tujuh gol dari 12 penampilan, tak jauh berbeda dari Schick. Konsistensinya luar biasa: dalam tiga musim terakhir Bundesliga, ia selalu mencetak dua digit gol, meski tidak selalu menjadi starter. Pada 2025/26, misalnya, ia mencetak 12 gol dari 25 laga, hanya 17 di antaranya sebagai starter.
Namun, kedua striker tidak hanya dinilai dari gol. Demirović dikenal merepotkan bek lawan dengan kekuatan fisik dan pressing tanpa henti. Ia mencatat 371 sprint intensif hanya dalam lima pertandingan sebagai starter. Sementara Schick menunjukkan kualitas permainan menyeluruh, terlihat dari assist elegannya untuk Ibrahim Maza dalam kemenangan 2-1 atas Freiburg, sebelum ia sendiri mencetak gol kemenangan.
Kekalahan di pekan ke-7 membuat Leverkusen dan Stuttgart sama-sama berambisi meraih tiga poin. Leverkusen tumbang 0-3 di markas Hoffenheim, sedangkan Stuttgart takluk 2-3 dari Borussia Mönchengladbach. Kini, kedua tim berharap striker andalan mereka kembali bersinar. Pertanyaannya, siapa yang lebih menentukan? Schick dengan penyelesaian akhirnya yang klinis, atau Demirović dengan pressing dan fisiknya yang mengganggu?
Laga ini juga menjadi ajang pembuktian bagi kedua pelatih dalam meracik strategi. Leverkusen mungkin akan mengandalkan kreativitas lini tengah untuk memberi suplai kepada Schick, sementara Stuttgart bisa memanfaatkan agresivitas Demirović untuk menekan pertahanan lawan. Hasil akhir bisa sangat bergantung pada efektivitas masing-masing striker dalam memanfaatkan peluang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, duel ini menarik untuk disimak sebagai pelajaran tentang bagaimana penyerang modern dituntut tidak hanya mencetak gol tetapi juga berkontribusi dalam permainan tim. Schick dan Demirović adalah contoh dua tipe striker berbeda yang sama-sama mematikan. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Jawabannya akan terungkap di BayArena.



