NASA Buka Pendaftaran Nama untuk Misi Dragonfly ke Titan, Batas 15 Januari 2027
Baca dalam 60 detik
- NASA membuka registrasi daring bagi publik yang ingin namanya diabadikan dalam cip mikro di pesawat Dragonfly yang akan diluncurkan Juli 2028.
- Titan, bulan terbesar Saturnus, menjadi target utama karena diduga memiliki lautan bawah permukaan yang berpotensi mendukung kehidupan mikroba.
- Pendaftaran ditutup 15 Januari 2027, dan peserta akan menerima boarding pass digital sebagai bukti partisipasi dalam misi bersejarah ini.

NASA kembali mengajak masyarakat dunia untuk ambil bagian dalam eksplorasi luar angkasa. Melalui kampanye bertajuk Journey to Titan, badan antariksa Amerika Serikat itu membuka registrasi online yang memungkinkan siapa pun mengirimkan nama mereka untuk diterbangkan bersama wahana Dragonfly ke Titan, bulan terbesar Saturnus. Nama-nama yang terdaftar akan disimpan dalam sebuah chip mikro yang dipasang pada pesawat, dan pendaftar akan menerima boarding pass digital sebagai tanda partisipasi. Peluncuran Dragonfly dijadwalkan paling cepat Juli 2028, dan wahana itu diperkirakan tiba di Titan pada 2034.
Inisiatif ini bukan sekadar formalitas. Titan telah lama menjadi incaran para astrobiolog karena karakteristiknya yang unik. Meskipun permukaannya sangat dingin—sekitar minus 290 derajat Fahrenheit—dan dipenuhi dunes serta sungai metana, di bawah kerak esnya terdapat lautan besar yang diduga mengandung senyawa kompleks. Simulasi laboratorium menunjukkan bahwa atmosfer Titan dapat membentuk blok pembangun DNA dan RNA, sehingga memicu spekulasi tentang kemungkinan adanya kehidupan mikroba di sana. Namun, untuk membuktikannya, diperlukan pengamatan langsung yang hanya bisa dilakukan oleh Dragonfly.
Dragonfly sendiri merupakan rotorcraft nirawak dengan delapan bilah yang akan menjelajahi Titan selama tiga tahun. Kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) memungkinkannya berpindah lokasi dan mengunjungi 20 hingga 30 area berbeda, dengan total jarak tempuh sekitar 70 mil. Misi ini menjadi yang keempat dalam program New Frontiers NASA dan saat ini sedang dibangun di Johns Hopkins Applied Physics Laboratory (APL) di Laurel, Maryland. "Kami antusias membawa umat manusia dalam perjalanan seumur hidup, dan kami mengundang semua orang untuk mengirimkan nama mereka pada rotorcraft kecil namun tangguh yang akan mengungkap rahasia alam semesta," ujar Nicky Fox, associate administrator Direktorat Misi Sains NASA.
Bagi Indonesia, partisipasi dalam program semacam ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan literasi sains dan antusiasme generasi muda terhadap eksplorasi antariksa. Meskipun Indonesia belum memiliki program luar angkasa yang setara, keterlibatan publik dalam misi global seperti ini dapat mendorong minat terhadap STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika). Selain itu, kolaborasi internasional di bidang antariksa semakin terbuka, dan kesempatan bagi peneliti Indonesia untuk terlibat dalam analisis data misi luar angkasa patut dipertimbangkan.
Dengan tenggat waktu yang masih panjang, masyarakat memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah eksplorasi tata surya. Apakah nama Anda akan tercatat dalam misi yang mungkin mengubah pemahaman kita tentang kehidupan di luar Bumi? Kunjungi situs resmi NASA untuk mendaftar sebelum batas waktu berakhir.



