Tabrakan Kereta Spanyol: 68 Tewas, 114 Nyawa Melayang dalam 10 Bulan
Baca dalam 60 detik
- Dua kereta penumpang bertabrakan di dekat Urda, Spanyol, menewaskan sedikitnya 68 orang dan melukai puluhan lainnya.
- Insiden ini merupakan kecelakaan kereta kedua yang mematikan dalam 10 bulan, setelah tabrakan di Adamuz pada Januari yang menewaskan 46 orang.
- Pemerintah Spanyol menghadapi tekanan menjelang pemilu sela bulan depan, dengan pertanyaan serius tentang keselamatan jaringan kereta cepat yang modern.

Sedikitnya 68 orang tewas setelah dua kereta penumpang bertabrakan di dekat Kota Urda, wilayah Castilla-La Mancha, Spanyol, pada Rabu pagi. Kecelakaan ini menjadi pukulan telak bagi jaringan kereta cepat Spanyol, karena merupakan insiden fatal kedua dalam kurun sepuluh bulan terakhir.
Kereta milik operator negara Renfe yang melaju dari Madrid menuju Sevilla menabrak bagian belakang kereta milik operator swasta Iryo pada jalur yang sama. Tabrakan terjadi sekitar pukul 08.53 waktu setempat, tepat ketika para penumpang bersiap menikmati perjalanan pagi. Puluhan orang lainnya mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Para penyintas menggambarkan detik-detik mengerikan saat gerbong terlempar dan tubuh mereka terpelanting. Seorang turis asal Peru, Josimar Medina (37), mengaku terbangun dan mendapati dirinya melayang di udara sebelum menghantam dinding kereta. "Saya melihat orang-orang dengan luka terbuka, penuh darah, ada yang kehilangan anggota tubuh," ujarnya. Ia dan kekasihnya, Vitoria Maia, berada di gerbong ketujuh dan selamat dari maut.
"Semuanya terjadi dalam sekejap. Meja yang kami duduki lenyap akibat benturan. Saya merasa seperti hidup kedua," kata Arabella Barilea, penumpang asal Filipina yang kini tinggal di Dubai.
Pemerintah Spanyol bergerak cepat mengerahkan tim penyelamat. Pusat olahraga di Urda diubah menjadi pos triase darurat, sementara kendaraan dari Castilla-La Mancha dan Madrid memadati jalan-jalan sempit di kota kecil itu. Perdana Menteri Pedro Sánchez mengunjungi lokasi kejadian dan menyatakan masa berkabung nasional.
Namun, duka segera berubah menjadi amarah. Insiden ini membangkitkan kembali kenangan akan kecelakaan kereta di Adamuz pada Januari lalu yang menewaskan 46 orang. Total korban jiwa dari dua kecelakaan dalam sepuluh bulan terakhir mencapai 114 orang. Menteri Perhubungan Spanyol menyebut penyebab kecelakaan masih "dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan" dan berjanji akan mengusut tuntas.
Spanyol dikenal memiliki salah satu jaringan kereta cepat terluas dan termodern di Eropa. Namun, dua kecelakaan fatal dalam waktu singkat mempertanyakan standar keselamatan dan prosedur operasional, terutama karena melibatkan dua operator berbeda di jalur yang sama. Para ahli transportasi menilai perlunya audit menyeluruh terhadap sistem sinyal dan pengawasan lalu lintas kereta.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola keselamatan transportasi publik, terutama saat proyek kereta cepat Jakarta-Bandung mulai beroperasi penuh. Pelajaran yang bisa dipetik adalah perlunya evaluasi berkala terhadap infrastruktur dan protokol darurat, serta transparansi dalam investigasi kecelakaan.
Dengan pemilihan umum sela yang tinggal sebulan lagi, tekanan politik terhadap pemerintah Sánchez diprediksi meningkat. Publik menuntut jawaban atas pertanyaan mengapa kecelakaan serupa bisa terulang. Apakah tragedi ini akan memicu reformasi menyeluruh dalam sistem perkeretaapian Spanyol, atau justru menjadi pukulan elektoral bagi koalisi yang berkuasa? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi tuntutan akan akuntabilitas semakin sulit dibendung.



