Erick Thohir Siapkan Sanksi Pengurangan Poin bagi Klub yang Gagal Jaga Suporter
Baca dalam 60 detik
- PSSI mengultimatum klub dan operator liga agar menindak tegas kekerasan suporter, termasuk opsi pengurangan poin.
- Rangkaian insiden dalam sebulan terakhir, dari pelemparan bus hingga tewasnya suporter Persib, memicu respons darurat.
- Erick Thohir mengungkap pertemuan tertutup dengan Kapolri dan akan mengumumkan komitmen bersama dalam satu-dua minggu.

Ketua PSSI Erick Thohir menegaskan tidak akan mentoleransi kekerasan suporter yang kembali mencuat dalam sebulan terakhir. Ia memberi sinyal sanksi tegas, termasuk pengurangan poin, bagi klub yang gagal menjaga keamanan pendukungnya.
Pernyataan itu muncul setelah serangkaian insiden berdarah mewarnai kompetisi musim ini. Pada 11 Oktober 2026, bus pemain Persib Bandung U-18 diserang di Rest Area KM 360 Batang. Sehari berselang, bus rombongan suporter Persija Jakarta dilempari benda keras di Tol Palikanci KM 200, Cirebon. Puncaknya, 25 Oktober 2026, seorang suporter Persib tewas dibacok usai menonton laga melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Bogor.
Erick menilai rentetan kejadian itu sebagai peringatan serius bahwa sepak bola Indonesia belum sepenuhnya lepas dari budaya kekerasan. Ia meminta liga dan klub tidak berlindung di balik dalih apa pun. "Posisi kami jelas: liga dan klub harus bertindak tegas. Aturannya sudah ada, tidak perlu diputar-putar," ujarnya, seperti dikutip dari Bola.com.
Yang membedakan musim ini adalah kembalinya suporter tim tamu ke stadion setelah tiga tahun absen. FIFA memberikan kelonggaran mulai 2026/2027, dan PSSI berharap kebijakan itu tidak disalahgunakan. "Kita sudah tiga tahun tanpa penonton tandang. Sekarang FIFA membuka keran, jangan sampai kesempatan ini justru berujung kerusuhan," kata Erick.
Ia juga menyoroti pembatasan kehadiran suporter tandang untuk laga-laga tertentu sebagai langkah antisipasi yang sudah diterapkan. Namun, menurutnya, kesadaran kolektif klub dan suporter tetap menjadi kunci. "Klub harus paham bahwa ini bukan hanya soal sepak bola, tapi soal nyawa. Ketika ada suporter yang tidak bisa pulang dengan selamat, itu sudah keterlaluan," tegasnya.
"Kami tidak hanya menindak klub, tapi juga suporter. Bahkan pengurangan poin harus dijalankan jika harmoni tidak bisa dijaga." โ Erick Thohir, Ketua PSSI
Di luar stadion, Erick mengapresiasi respons cepat kepolisian yang menangkap pelaku dalam waktu 1x24 jam pada sejumlah kasus. Ia mengaku telah menggelar pertemuan tertutup dengan Kapolri Suyudi Ario Seto untuk menyatukan langkah. "Mungkin satu hingga dua minggu lagi kami akan umumkan komitmen bersama Kapolri dan PSSI untuk menindak pelaku kriminal di luar pertandingan," ungkapnya.
Erick menegaskan tragedi Kanjuruhan pada 2022 menjadi pelajaran mahal yang tidak boleh terulang. PSSI, katanya, akan mendorong penegakan aturan tanpa pandang bulu. "Kalau di dalam pertandingan, kita sudah pernah mengalami Kanjuruhan. Itu tidak bisa ditoleransi lagi," ujarnya.
Pengurangan poin memang bukan ancaman kosong. Regulasi kompetisi memungkinkan sanksi tersebut jika klub terbukti gagal mengendalikan suporter. Namun, penerapannya kerap menuai polemik karena dianggap menghukum tim secara tidak langsung. Erick tampaknya ingin menutup celah itu dengan penegakan yang konsisten.
Ke depan, tantangannya adalah memastikan aturan tidak hanya tebal di atas kertas. Klub-klub Liga 1 perlu membenahi sistem pengamanan, koordinasi dengan kepolisian, dan edukasi suporter. Tanpa itu, ancaman pengurangan poin hanya akan menjadi retorika musiman. Publik menunggu apakah PSSI benar-benar mengeksekusi sanksi atau kembali berkompromi demi kelancaran kompetisi.



