Borneo FC Kembali Andalkan Tiga Muda: Amar Brkic, Dandy Sonriza, dan Hugo Samir
Baca dalam 60 detik
- Borneo FC kembali menunjukkan komitmen pada pembinaan usia muda dengan mengorbitkan Amar Brkic, Dandy Sonriza, dan Hugo Samir ke tim senior.
- Ketiganya tampil impresif di berbagai kompetisi, menyumbang gol dan assist saat melawan PSS Sleman dan Tainan City.
- Konsistensi mereka berpotensi mengangkat performa Pesut Etam sekaligus menarik minat klub lain, seperti yang terjadi pada Fajar Faturrahman dan Alfharezzi Buffon.

Borneo FC kembali membuktikan bahwa akademi mereka adalah salah satu yang paling produktif di Indonesia. Tiga pemain muda—Amar Brkic, Dandy Sonriza, dan Hugo Samir—kini menjadi sorotan setelah tampil mengesankan di kancah domestik maupun internasional. Klub berjuluk Pesut Etam itu memang dikenal rutin melahirkan talenta baru, dan musim ini bukan pengecualian.
Sejarah mencatat nama-nama seperti Fajar Faturrahman, Komang Teguh, Terens Puhiri, hingga Alfahrezzi Buffon sebagai lulusan pembinaan Borneo FC yang kini bersinar di klub lain. Musim ini, Fajar hengkang ke Persija Jakarta, sementara Buffon bergabung dengan Dewa United. Keduanya dilepas dengan skema transfer, menandakan bahwa Borneo FC tidak sekadar mengembangkan pemain, tetapi juga menjalankan model bisnis berkelanjutan di industri sepak bola nasional.
Nama Amar Brkic mencuat setelah ia didatangkan pada akhir bursa transfer pertama. Pemain diaspora berusia 19 tahun yang masih memperkuat Timnas Indonesia U-20 itu langsung dipercaya mengisi posisi bek kanan, menggantikan peran yang ditinggalkan Buffon. Debutnya di AFC Challenge League berjalan manis: ia ikut menyumbang gol dalam kemenangan 3-1 atas Tainan City di Samarinda. Performa solid itu berbuah kesempatan debut di Super League saat Borneo FC menaklukkan PSS Sleman 2-1, Selasa lalu.
Pada laga tandang melawan PSS Sleman, giliran Dandy Sonriza dan Hugo Samir yang mencuri perhatian. Keduanya mencetak gol ke gawang Super Elang Jawa, memperlihatkan kematangan yang jarang dimiliki pemain seusia mereka. Dandy, yang baru ditarik pulang setelah masa peminjaman di Adhyaksa FC berakhir, beroperasi di sayap kiri, sedangkan Hugo di sayap kanan. Kecepatan dan energi mereka menjadi senjata ampuh bagi Borneo FC, terutama saat melancarkan serangan balik.
Hugo Samir, putra pelatih kawakan Jacksen Tiago, kembali ke Samarinda setelah 1,5 musim membela Persik dan sempat dipinjamkan ke Persiku Kudus di paruh kedua musim lalu. Penampilannya kini semakin dewasa. Dalam lima laga yang telah ia jalani, Hugo mencetak satu gol di Super League dan satu assist di AFC Challenge League. Sementara Dandy, 23 tahun, telah mengoleksi empat penampilan di Super League dan satu di AFC Challenge League.
"Jika trio wonderkids ini bermain konsisten, terbuka jalan untuk terus berkembang. Apalagi semua kompetisi yang diikuti Borneo FC masih memasuki tahap awal," demikian analisis yang beredar di kalangan pengamat.
Konsistensi ketiganya akan menjadi kunci. Dengan kompetisi yang baru berjalan, pelatih Mauro Jeronimo memiliki ruang untuk terus memberi mereka menit bermain. Jika mampu menjaga performa, bukan tidak mungkin mereka menyusul jejak senior-seniornya yang telah lebih dulu bersinar—atau bahkan menarik minat klub asing. Borneo FC pun diuntungkan secara finansial jika suatu saat nanti melepas mereka dengan harga tinggi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga agar para pemain muda ini tidak cepat puas. Liga yang panjang dan kompetisi Asia yang menuntut fisik serta mental kuat akan menjadi ujian sesungguhnya. Mampukah Borneo FC terus menjadi kawah candradimuka bagi talenta muda Indonesia? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang.



