Pemilu Israel: Netanyahu dan Eisenkot Imbang, Partai Palestina Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Hasil exit poll terbaru menunjukkan blok Netanyahu dan Eisenkot sama-sama meraih 51 kursi, jauh dari ambang mayoritas 61 kursi.
- Partai Palestina diproyeksikan mengantongi hingga 18 kursi, naik dari sebelumnya 10, mengubah peta politik Knesset.
- Jika tak ada mayoritas, Eisenkot kemungkinan harus bernegosiasi dengan partai Palestina atau membentuk pemerintahan minoritas.

Hasil jajak pendapat terbaru Pemilu Israel menempatkan koalisi petahana Benjamin Netanyahu dan blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot dalam posisi seimbang dengan masing-masing 51 kursi dari total 120 kursi Knesset. Angka ini masih jauh dari syarat minimal 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas, sehingga proses koalisi diperkirakan berlarut-larut.
Exit poll yang dirilis stasiun televisi utama Israel pada Selasa malam sempat menunjukkan keunggulan tipis Eisenkot, namun revisi kemudian mengubah peta. Seperti diketahui, jajak pendapat di Israel kerap mengalami fluktuasi signifikan dan tidak jarang meleset beberapa kursi dari hasil resmi. Perbedaan versi ini menambah ketidakpastian politik di negara tersebut.
Yang paling mencolok adalah lonjakan dukungan terhadap partai-partai Palestina. Proyeksi sementara memperkirakan mereka bisa meraih hingga 18 kursi, naik drastis dari 10 kursi pada pemilu sebelumnya. Kenaikan ini dipandang sebagai sinyal perubahan lanskap politik Israel, di mana suara warga Palestina di Knesset semakin signifikan.
Jika hasil resmi nanti mengonfirmasi tidak ada pemenang mayoritas, Eisenkot menghadapi dua opsi sulit. Pertama, ia harus bernegosiasi dengan partai Palestina, Joint List dan Ra'am, untuk membentuk koalisi. Proses ini bisa memakan waktu berpekan-pekan. Kedua, ia dapat mencoba membentuk pemerintahan minoritas dengan dukungan suara bergilir dari partai-partai lain, meski risikonya tidak stabil.
Netanyahu, dalam pidato kemenangan di Yerusalem dini hari, menegaskan bahwa Likud adalah partai terbesar dan menolak pemerintahan yang bergantung pada partai Palestina. "Kita harus membentuk pemerintahan nasional kanan yang kuat," ujarnya. Sementara itu, Eisenkot di Tel Aviv menyatakan bahwa publik Israel telah memberikan suara menolak kepemimpinan Netanyahu dan menyerukan agar Netanyahu tidak menggunakan isu keamanan untuk kepentingan politik praktis.
Ketegangan semakin memanas setelah upaya Netanyahu dan beberapa partai untuk memperpanjang waktu pemungutan suara ditolak Komite Pemilihan Pusat. Netanyahu sempat menuduh ada upaya "kiri dan Arab" untuk mencuri pemilu, namun komite menyatakan tidak menemukan bukti kecurangan sistematis.
Bagi Indonesia, dinamika politik Israel selalu menarik untuk dicermati karena posisi strategisnya di Timur Tengah. Perubahan komposisi Knesset dapat memengaruhi arah kebijakan luar negeri Israel, termasuk hubungan dengan negara-negara Muslim dan isu Palestina yang menjadi perhatian utama Indonesia. Meski demikian, dampak langsung terhadap hubungan bilateral Indonesia-Israel relatif terbatas karena tidak adanya hubungan diplomatik resmi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Eisenkot mampu merangkul partai Palestina dalam koalisi, atau justru Netanyahu yang berhasil membentuk pemerintahan kanan tanpa mereka. Semua bergantung pada hasil penghitungan suara resmi dan negosiasi alot yang akan menentukan arah politik Israel beberapa tahun mendatang.



