Bitcoin Tembus di Bawah US$80.000 Saat Pasar Kripto Abaikan Reli Teknologi Asia dan Tunggu Keputusan The Fed
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin turun ke kisaran US$79.700 pada Selasa, melemah 0,4% sejak tengah malam UTC, sementara ether dan indeks DeFi ikut tertekan.
- Reli saham teknologi Asia, termasuk Kospi yang melonjak 3,1%, tidak mampu menular ke pasar aset digital yang justru menanti hasil rapat dua hari The Fed.
- Arus masuk bersih US$110 juta ke ETF Bitcoin spot AS pada Senin mengakhiri dua hari penarikan, tetapi pelaku pasar masih mencermati sinyal kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun.

Harga Bitcoin (BTC) meluncur di bawah ambang US$80.000 pada perdagangan Selasa, mencatat pelemahan 0,4% sejak tengah malam UTC dan menyentuh level sekitar US$79.700. Penurunan ini terjadi ketika pasar kripto tampak mengabaikan euforia reli saham teknologi Asia, sementara pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan Rabu.
Altcoin mengalami tekanan lebih dalam. Ether (ETH), sebagai kripto terbesar kedua, kehilangan 0,5% ke posisi US$2.312,72. Indeks DeFi (DFX) tercatat turun 1,8%, pembalikan tajam dari posisi Senin ketika indeks tersebut menjadi satu-satunya yang menguat di antara indeks CoinDesk. Pelemahan ini menggarisbawahi kerapuhan sentimen di segmen keuangan terdesentralisasi yang belakangan lebih sensitif terhadap pergerakan likuiditas global.
Di sisi lain, bursa saham Asia justru menunjukkan performa cemerlang. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 3,1%, didorong oleh optimisme terhadap sektor teknologi. Namun, momentum tersebut tidak merambat ke aset kripto. Kontrak berjangka indeks saham AS juga bergerak sedikit lebih rendah menjelang rilis laba perusahaan teknologi besar pada pekan ini. Sementara itu, harga minyak mentah AS mendekati US$102 per barel, menambah tekanan inflasi yang menjadi perhatian bank sentral.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada rapat dua hari Federal Reserve yang dimulai Selasa. Berdasarkan alat FedWatch milik CME, probabilitas bank sentral mempertahankan suku bunga acuan berada di kisaran 90%. Meski demikian, pelaku pasar akan mencermati petunjuk apakah masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun. Sikap The Fed menjadi krusial karena kebijakan moneter ketat cenderung menekan aset berisiko, termasuk kripto.
Di tengah tekanan tersebut, instrumen investasi berbasis Bitcoin di pasar AS menunjukkan tanda stabilisasi. Data dari Farside Investors mencatat arus masuk bersih sebesar US$110 juta ke ETF Bitcoin spot pada Senin, mengakhiri periode dua hari berturut-turut arus keluar. Angka ini memberikan secercah harapan bahwa minat institusional terhadap Bitcoin belum sepenuhnya pudar, meskipun besarnya arus masuk masih tergolong moderat dibandingkan periode bullish sebelumnya.
"Pasar kripto saat ini lebih reaktif terhadap ekspektasi kebijakan moneter daripada terhadap pergerakan saham teknologi global. Reli Kospi tidak serta-merta menjadi katalis bagi Bitcoin karena investor institusional masih menimbang risiko likuiditas," ujar seorang analis pasar digital yang memantau aliran dana ETF.
Sentimen di pasar kripto juga dipengaruhi oleh perkembangan di segmen stablecoin dan aset dunia nyata (RWA). Stablecoin RWA yang terdiversifikasi dilaporkan mampu mempertahankan imbal hasil 5-7% dari kredit riil, sementara pendanaan kripto terkompresi ke sekitar 4%. Inisiatif GENIUS yang mendorong imbal hasil ke luar rantai (off-chain) turut memperluas total pasar yang dapat dialamatkan (TAM) menjadi US$4 miliar dalam tiga tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa inovasi di ranah keuangan terdesentralisasi terus berjalan, meski harga aset utama sedang tertekan.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin dan altcoin global ini perlu dicermati karena pasar kripto domestik memiliki korelasi yang cukup erat dengan sentimen internasional. Regulasi aset kripto di Indonesia yang diawasi oleh OJK dan Bappebti terus berkembang, dan fluktuasi harga global dapat memengaruhi minat investor ritel lokal. Apalagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi faktor yang memengaruhi daya beli investor dalam mengakumulasi aset digital.
Ke depan, keputusan The Fed pada Rabu akan menjadi penentu arah jangka pendek. Jika bank sentral memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama, tekanan terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika ada indikasi pelonggaran, pasar kripto bisa kembali menguji level psikologis US$80.000. Pertanyaannya, apakah arus masuk ETF yang kembali positif mampu menahan gelombang aksi jual, atau justru menjadi momen bagi investor untuk mengambil untung sebelum badai kebijakan moneter mereda?



