Erick Thohir Desak Polisi Usut Tuntas Pembacokan Suporter di Bogor: Keselamatan Tak Bisa Ditawar
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta aparat kepolisian menindak tegas pelaku penyerangan bersenjata tajam yang menewaskan seorang remaja usai laga Garudayaksa FC vs Persib di Stadion Pakansari.
- Insiden ini kembali mencoreng wajah sepak bola nasional di tengah momentum positif setelah Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
- PSSI menekankan pentingnya sinergi klub, panpel, komunitas suporter, dan polisi untuk menciptakan stadion yang aman dan ramah keluarga.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta Kepolisian Resor Bogor mengusut tuntas kasus penyerangan bersenjata tajam yang menyebabkan seorang remaja tewas setelah menyaksikan pertandingan antara Garudayaksa FC dan Persib Bandung di Stadion Pakansari, Cibinong, Minggu (25/10/2026). Insiden ini menjadi pukulan telak bagi upaya pembenahan sepak bola nasional yang tengah berbenah.
Korban, warga Kampung Duku, Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, ditemukan tak bernyawa di pinggir jalan dengan luka diduga akibat sabetan senjata tajam. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan antarsuporter yang seharusnya tidak lagi terjadi di kompetisi sepak bola Indonesia.
Erick, yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, mengaku telah menghubungi Kapolres setempat secara langsung untuk memastikan investigasi berjalan cepat dan transparan. Ia meminta polisi mengusut apakah aksi tersebut murni tindak pidana atau dipicu rivalitas antarkelompok suporter. "Suporter itu harus bisa pulang ke rumah dengan selamat," tegas Erick dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Bagi Erick, atmosfer sepak bola yang aman dan ramah keluarga adalah harga mati. Setiap penonton yang datang ke stadion untuk mendukung tim kesayangannya berhak mendapat jaminan keamanan penuh. Ia menilai kekerasan tidak pernah dibenarkan dalam konteks apa pun, termasuk di dunia olahraga.
PSSI, kata Erick, telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar seluruh pelaku diproses hukum secara tegas. Langkah ini diambil untuk memberikan efek jera sekaligus memastikan kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Insiden ini sangat disayangkan mengingat sepak bola Indonesia sedang berada di trek positif. Keberhasilan skuad Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 membuktikan bahwa sepak bola memiliki kekuatan besar untuk menyatukan seluruh elemen bangsa melalui dukungan yang masif, damai, dan penuh kebanggaan. Namun, kekerasan di luar lapangan justru mengancam momentum tersebut.
"Suporter itu harus bisa pulang ke rumah dengan selamat," ujar Erick Thohir, menegaskan prioritas keselamatan dalam setiap pertandingan.
Erick menekankan pentingnya sinergi antara klub, panitia pelaksana (panpel), komunitas fan, dan pihak kepolisian. Menurutnya, koordinasi yang erat di semua lini menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan pertandingan yang kondusif. Ia juga mengingatkan bahwa sepak bola seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan ajang balas dendam.
Kasus ini menjadi ujian bagi komitmen PSSI dan aparat keamanan dalam memberantas kekerasan di sepak bola Indonesia. Sebelumnya, berbagai insiden serupa telah mencoreng citra kompetisi domestik dan menimbulkan korban jiwa. Tanpa penegakan hukum yang konsisten dan pembenahan sistem keamanan, risiko jatuhnya korban berikutnya akan terus menghantui.
Ke depan, publik menanti apakah investigasi polisi akan mengungkap dalang di balik penyerangan ini dan apakah PSSI akan memperketat regulasi keamanan, termasuk penerapan sanksi tegas bagi klub atau kelompok suporter yang terbukti terlibat kekerasan. Jika tidak, sepak bola Indonesia hanya akan terus berputar dalam lingkaran kekerasan yang sama.



