Marcos Reina Bongkar Rahasia Persik Kediri: Pendekatan Humanis di Tengah Jadwal Padat
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Persik Kediri, Marcos Reina, menerapkan gaya kepemimpinan humanis untuk menjaga kondisi mental pemain di tengah padatnya BRI Super League 2026/2027.
- Kebebasan berekspresi saat latihan dan pengelolaan ruang ganti yang kondusif disebut menjadi kunci kekompakan Macan Putih di enam laga awal.
- Pendekatan ini diyakini menjadi pembeda di kompetisi yang menuntut adaptasi cepat, terutama bagi tim dengan sumber daya terbatas seperti Persik.

Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, menegaskan bahwa keberhasilan timnya di awal BRI Super League 2026/2027 bukan semata soal taktik. Dalam wawancara eksklusif, juru taktik asal Spanyol itu mengungkap bahwa pendekatan humanis kepada para pemain menjadi fondasi utama di balik performa apik Macan Putih.
Keputusan Reina menerapkan gaya kepemimpinan yang menekankan kesejahteraan psikologis pemain berangkat dari kesadaran akan jadwal kompetisi yang luar biasa padat. Ia menilai, ritme hidup pesepak bola profesional tidak pernah lepas dari tekanan, baik yang muncul dari persaingan internal tim maupun dari ekspektasi eksternal di lapangan.
“Tekanan itu selalu ada, dan tugas saya adalah memastikan para pemain tetap merasa nyaman serta bahagia,” ujar Reina seperti dikutip dari wawancara daring, Jumat (23/10/2026). “Saya memperlakukan mereka sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar mesin pencetak gol.”
Bagi Reina, kebebasan berekspresi di sesi latihan bukan berarti mengendurkan disiplin. Ia justru merancang variasi menu latihan yang membuat pemain tetap menikmati proses meski beban kerja tinggi. “Saya biarkan mereka bercanda dan tertawa, karena itu cara membangun chemistry. Tapi saat sesi taktik, fokus harus penuh,” jelasnya.
Pendekatan ini diyakini Reina berperan besar dalam menciptakan keharmonisan skuat. Ia menyebut, chemistry yang terbangun membuat para pemain saling memahami keinginan rekan setim di lapangan. “Anda lihat sendiri bagaimana mereka saling bahu-membahu. Permainan kami jadi kompak dan dinamis,” tambahnya.
“Seorang pelatih harus bisa mengendalikan ruang ganti. Itu ruang privasi yang harus dijaga. Dari locker room yang kondusif, dampaknya terasa ke permainan di lapangan.” — Marcos Reina
Kemenangan 2-1 atas PSS Sleman pada pekan keenam menjadi bukti konkret. Meski mengakui tekanan dari tim tamu sangat masif, Reina bersyukur anak asuhnya mampu mengatasi situasi sulit. “PSS bermain bukan seperti tim tamu. Tapi kami bisa mengatasinya dengan baik,” ujarnya.
Dalam konteks kompetisi domestik, pendekatan humanis seperti yang diterapkan Reina menjadi oase di tengah budaya sepak bola Indonesia yang kerap menuntut hasil instan. Tekanan dari manajemen, suporter, dan media sering kali membuat pelatih mengabaikan aspek psikologis pemain. Padahal, menurut sejumlah pengamat, keseimbangan mental menjadi faktor krusial di liga dengan jadwal padat dan cuaca tropis yang menguras energi.
Persik Kediri sendiri bukan tim dengan sumber daya sebesar Persija atau Persib. Dengan skuat yang relatif sederhana, manajemen emosi dan kebersamaan menjadi modal utama untuk bersaing di papan atas. Langkah Reina memberi contoh bahwa investasi pada kesejahteraan pemain dapat berbuah hasil di lapangan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi pendekatan ini ketika jadwal semakin padat dan tekanan klasemen meningkat. Mampukah Reina mempertahankan atmosfer positif di ruang ganti Persik sepanjang musim, atau justru sebaliknya ketika hasil mulai tidak berpihak? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang.



